PEYRONIE’S DISEASE
PENDAHULUAN
Seorangdokter asal Perancis François
Gigot de Peyronie dikenal luas sebagai orang pertama yang mendeskripsikan
pelengkungan penis, yang sekarang dikenal dengan nama penyakit Peyroni, pada
tahun 1743. Etiologi yang tepat dari kondisi ini masih belum jelas.Penyakit ini
dicirikan dengan lengkungan pada sarung penis yang sering disertai dengan rasa
sakit saat ereksi dan disertai dengan suatu daerah fibrotik.Setelah beberapa
tahun, beragam terapi medikasi dan pembedahan telah digunakan untuk mengatasi
kondisi ini.
Penyakit Peyronie selain merupakan
suatu kelainan secara organis, juga dapat menjadi sumber masalah signifikan
dalam hubungan seksual,karena penyakit ini dapat menyebabkan kekhawatiran dan
stress pada penderita dan pasangan.
Tulisan ini akan menjelaskan
mengenai masalah penyakit Peyronie, evaluasi pasien dengan penyakit Peyronie,
menjelaskan tentang terapi medikasi yang biasa diberikan, dan pilihan tindakan
bedah yang telah tersedia
.
.
TINJAUAN
PUSTAKA
I.
ANATOMI
DAN FISIOLOGI PENIS
Penis
terdiri atas 3 buah korpora berbentuk silindris, yaitu 2 buah korpora kavernosa
yang saling berpasangan dan sebuah korpus spongiosum yang berada di sebelah
ventralnya.Korpora kavernosa tersusun dari dua silinder paralel jaringan
erektil (mudah bangun menjadi tegak).Korpus spongiosum lebih kecil bangunan
silinder tunggal terletak dibagian ventral, bagian bawah bangunan korpora
kavernosa.Ia mengelilingi uretra, sedangkan bagian ujungnya membentuk glans
penis.
Penis
terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujung penis disebut glan
penis.Bagian tengahnya disebut korpus penis dan pangkalnya disebut radiks
penis.Glan penis tertutup oleh kulit korpus penis, kulit penutup ini disebut
prepusium.Penis terdiri atas jaringan seperti busa dan terletak memanjang,
tempat muara uretra dari glan penis adalah frenulum.
Sistem
perdarahanpenis :
Aorta
abdominalis setinggi vertebra lumbal 4 akan mempercabangkan arteri iliaka
komunis. Di artikulasio sakroiliaka di linea terminalis arteri ini bercabang menjadi
arteri iliaka interna yang memvaskularisasi regio perinealis (area antara
pantat dan alat kelamin) dan regio pudendalis (area sekitar alat kelamin).
Arteri
iliaka interna bercabang menjadi:
1.
Arteri pudenda interna, melanjutkan ke ventral menjadi arteri penis
2. Arteri spermatika interna, mengkuti duktus deferen, masuk ke dalam testis
3. Arteri spermatika eksterna, menyuplai bagian dorsal skrotum
4. Arteri skrotalis inferior.
2. Arteri spermatika interna, mengkuti duktus deferen, masuk ke dalam testis
3. Arteri spermatika eksterna, menyuplai bagian dorsal skrotum
4. Arteri skrotalis inferior.
Fungsi
penis secara biologi
adalah sebagai alat pembuangan (organ ekskresi)
sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi)
dan sebagai alat bantu reproduksi. Ereksi penis
merupakan hasil dari relaksasi otot polos penis yang pada dasarnya dimediasi
oleh refleks spinal dan melibatkan proses saraf pusat dan pengintegrasian
stimuli taktil, olfaktori, auditori, dan mental.
Pada
ereksi penis dapat terjadi sekurang – kurangnya dua mekanisme, yakni psikogenik
dan refleksogenik yang berinteraksi selama aktivitas seksual normal.Ereksi
psikogenik diawali secara sentral sebagai respon terhadap rangsang pendengaran,
penglihatan, pembauan atau imaginasi.Ereksi refleksogenik terjadi akibat pacuan
pada reseptor sensoris pada penis, yang dengan interaksi spinal, menyebabkan
aksi saraf somatis dan parasimpatis.
Ereksi
terjadi karena proses sebagai berikut. Arteri kavernosa dan jaringannya
berdilatasi, menyebabkan darah mengalir ke dalam jaringan kavernosa.Relaksasi
otot polos dinding trabekuler ruang lakuner jaringan kavernosa memberi ruang
akibat kenaikkan aliran darah. Perluasan ini akan menekan dinding trabekuler
bagian luar jaringan kavernosa terhadap tunika albugenia di sekelilingnya.
Akibatnya, vena yang keluar dari ruang lakuner melalui dinding trabekula dan
tunika menjadi tertekan, mengurangi aliran keluar darah vena dari ruang
lakuner.
Penutupan
venosa terjadi secara pasif, sementara itu kontraksi muskulus isiokavernosus
dapat mengkerutkan bagian proksimal korpora kavernosa dan juga akan menimbulkan
penutupan vena. Pelemasan terjadi akibat kontraksi otot polos jaringan arteri
dan trabekula. Kontriksi arteri akan mengurangi aliran darah menuju ruang
lakuner. Kontraksi trabekula menyebabkan pengosongan lakuna dan kontraksi ini
juga akan menarik dinding lakuna bagian luar menjauhi tunika albuginia, dan
membuka aliran vena.
Pengendalian
sistem ereksi melalui sistem saraf, tonus otot polos korpus kavernosum
dikendalikan oleh proses biokimia yang kompleks di tingkat sistem saraf perifer
dan sentral. Saraf otonom simpatis, parasimpatis, dan saraf somatis
mengendalikan tonus otot polos korpus kavernosum dan sistem vaskulernya melalui
hubungan neuroanatomi yang merupakan bagian integral inervasi dari traktus
urinarius bawah.
II.
DEFINISI
Penyakit
Peyroni adalah didapatkannya plaque
atau indurasi pada tunika albuginea korpus kavernosum penis sehingga
menyebabkan terjadinya angulasi (pembengkokan) batang penispada saat ereksi.
Penis
pria bervariasi dalam bentuk dan ukuran, dan terdapatnya lekukan ereksi adalah
suatu hal yang umum dan tidak memerlukan perhatian khusus.Pada beberapa pria,
penyakit Peyronie menyebabkan lengkungan atau nyeri yang signifikan.Hal ini
dapat menyebabkan gangguan hubungan seksual atau dapat menyebabkan kesulitan
dalam ereksi atau dalam mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi).Pada beberapa
pria, penyakit Peyronie juga menyebabkan stress dan kecemasan.
III.
EPIDEMIOLOGI
Kejadian
penyakit Peyronie dilaporkan sebanyak 0,39-3%. Namun jumlah ini diperkirakan
dibawah estimasi kejadian sebenarnya.Hal ini dikarenakan pada kebanyakan pria
merasa malu untuk mengungkapkan bahwa mereka memiliki penyakit ini.Kurangnya
pelaporan juga disebabkan akibat sedikitnya pria yang datang berobat karena
gejala penyakitnya masih minimal atau tidak mengganggu. Meskipun kondisi ini
biasanya mengenai pria berusia 40-70 tahun, berdasarkan Gelbard dkk, Carson,
dan Lindsay dkk, penyakit ini juga dapat mengenai individu dengan usia lebih
muda.
Pada
penelitian Mulhall dkk, pada tahun 2004, prevalensi dari penyakit ini mencapai
8,9% dari 534 pria yang dilakukan screening untuk kanker prostat di
Amerika Serikat. Penelitian ini juga menemukan proporsi yang signifikan pada
pria dengan penyakit Peyronie juga memiliki hipertensi dan diabetes.
IV.
ETIOLOGI
DAN FAKTOR RESIKO
Penyebab
yang pasti dari penyakit ini belum diketahui, tetapi secara histopatologi plak
itu mirip dengan vaskulitis pada kontraktur Dupuytren yang disebabkan oleh
reaksi imunologik.Hasil anamnesis pada pasien penyakit Peyronie menyebutkan
bahwa sebelumnya mereka mengalami trauma pada penis yang berulang pada saat
senggama.Trauma ini memicu pelepasan sitokin yang mengaktifkan proliferasi
fibroblast dan produksi kolagen, komponen matriks utama plak Peyronie, di dalam
tunika albuginea. Penyakit ini juga dikaitkan dengan defisiensi vitamin E,
konsumsi agen beta-blocker, dan peningkatan kadar serotonin.
Beberapa
faktor resiko telah diidentifikasi berkaitan secara signifikan dengan penyakit
Peyronie, antara lain :
·
Predisposisi
genetik berkaitan dengan keluarga yang memiliki riwayat penyakit Peyronie atau
kontraktur Dupuytren.
·
Usiaà
prevalensi penyakit Peyronie meningkat sesuai dengan pertambahan usia.
·
Penyakit
jaringan ikat
·
Trauma
minor vaskular penis, baik akibat kecelakaan atau iatrogenik dari sistoskopi
atau transurethral resection of the prostate (TURP)
·
Penyakit
vascular sistemik, termasuk diabetes mellitus, hipertensi, dan hiperlipidemmia.
·
Merokok
dan konsumsi alkohol.
·
Penggunaan
propanolol.
·
Riwayat
uretritis non gonokokus.
V.
PATOFISIOLOGI
Selama
ereksi, stimulasi saraf mengakibatkan relaksasi dari jaringan otot polos
kavernosa dan arteri kavernosa, membawa darah menuju penis dan rongga trabekula
dalam korpora kavernosa.Keadaan ini menyebabkan peningkatan aliran darah ke
korpora kavernosa dan mengumpulkan lebih banyak darah ke dalam organ
ini.Akibatnya, terjadi ekspansi dan peregangan pada sekitar tunika
albuginea.Lapisan tebal yang membesar ini terdiri dari kolagen dan jaringan fibrosa
yang elastik.Normalnya pembesaran terjadi pada pemanjangan dan pelebaran hingga
mencapai ukuran maksimum.
Ekspansi
menghasilkan peregangan, kompresi dan penutupan dari venula subtunika yang mengalirkan darah dari korpora. Darah
tidak dapat dengan mudah kembali dari penis, sehingga terjadi peningkatan
tekanan hidrostatik intrakorporal.Peningkatan tekanan ini menyebabkan penis
menjadi kaku saat tunika telah mencapai panjang dan lebar maksimal.
Pada
penyakit Peyronie, respon inflamasi inisial dikarakteristikkan oleh infiltrasi
limfosit dan plasmasit kronis pada tunika albuginea.Hal ini dapat merupakan
suatu akibat dari trauma minor penis yang dapat terjadi tanpa disadari selama
hubungan seksual.Devine dkk meyakini bahwa trauma tersebut dapat menyebabkan cedera
delaminasi pada dorsal dan ventral tunika albuginea, menyebabkan inflamasi,
indurasi, dan deposit fibrin di antara lapisan tunika. Jika pembentukan
jaringan parut dan deposit matriks ekstraseluler mempercepat degradasi kolagen
dan matriks, kemudian kolagen yang meningkat terdeposit di dalam tunika
albuginea, menyebabkan fibrosis dan pembentukan plak.
VI.
GAMBARAN
KLINIS
Gejala
klinis pada penyakit Peyroni dapat muncul secara tiba-tiba atau dapat
berkembang secara perlahan.Progresifitas dapat muncul dalam beberapa tahun.
Gambaran klinis yang umum antara lain :
·
Jaringan Parut. Teraba jaringan keras
(fibrous) tunggal ataupun berupa plak multipel pada tunika albuginea.
·
Penis yang membengkok. Penis dapat
mengalami pembengkokan ke arah atas, bawah, atau ke samping. Pada beberapa
kasus, penis yang ereksi memiliki tampilan seperti jam pasir.
·
Gangguan ereksi. Penyakit Peyronie dapat
menyebabkan disfungsi ereksi.
·
Pemendekan dari penis. Penis dapat
menjadi lebih pendek sebagai akibat dari penyakit Peyronie.
·
Nyeri. Nyeri dapat dirasakan selama
ereksi, hanya saat orgasme, atau setiap waktu saat penis disentuh.
Untuk
tujuan praktis, penyakit Peyronie dapat dibagi menjadi fase akut dan
kronis.Fase akut biasanya muncul pada 18-24 bulan pertama dan dicirikan dengan
nyeri pada penis, penis bengkok, dan nodul pada penis.Fase kronik dicirikan
dengan suatu plak stabil, kadang dengan kalsifikasi, dan angulasi
penis.Kehilangan kemampuan ereksi lebih sering dikaitkan dengan fase kronis.
VII.DIAGNOSIS
Penyakit
Peyronie dapat didiagnosa melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pada anamnesa dapat ditanyakan gejala klinis apa saja yang dirasakan
oleh pasien, serta riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit sistemik, dan
kebiasaan hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, serta konsumsi obat-obatan
jangka panjang.
Pada
pemeriksaan fisik, dapat dilakukan pada saat penis dalam keadaan ereksi maupun
tidak ereksi. Pada keadaan tidak ereksi dapat dilakukan pemeriksaan:
-
Mengetahui lokasi dan jumlah dari
jaringan parut pada penis (semua sisi)
-
Mengukur panjang penis
Pada keadaan ereksi :
-
Terdapat penis yang membengkok
-
Menilai derajat pembengkokan penis
-
Mengetahui lokasi dan jumlah dari
jaringan parut pada penis (semua sisi)
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk
membantu menegakkan diagnosis penyakit Peyronie antara lain :
-
Pemeriksaan ultrasound à
pemeriksaan yang paling umum digunakan untuk melihat jaringan lunak, keberadaan
jaringan parut, aliran darah ke penis, serta kelainan lain.
-
Pemeriksaan X-Ray à
untuk mengetahui adanya kalsifikasi pada pada kasus yang berat.
VIII.
TERAPI
Pasien
dengan penyakit Peyronie dapat ditatalaksana dengan tindakan konservatif berupa
pendekatan watchfull waitingapabila :
-
Pelengkungan penis tidak berat dan tidak
menjadi semakin buruk
-
Pasien masih dapat melakukan hubungan
seksual tanpa merasakan nyeri
-
Rasa nyeri saat ereksi hanya dirasakan
ringan.
Apabila gejala semakin memberat, dapat
direkomendasikan pemberian medikasi ataupun tindakan operatif.
Medikasi.
Beberapa
medikasi oral telah teruji untuk mengatasi penyakit Peyroni, namun Nampak
kurang efektif.Pada beberapa kasus, obat-obatan yang diinjeksi secara langsung
ke dalam penis dapat mengurangi lengkungan dan nyeri yang berkaitan dengan
penyakit Peyronie.
Obat-obatan
yang dapat digunakan antara lain :
-
Verapamil. Obat ini biasanya digunakan
untuk mengatasi hipertensi. Obat ini mencegah produksi kolagen yang berperan
pada pembentukan jaringan parut pada penyakit Peyronie.
-
Interferon. Obat ini merupakan suatu
jenis protein yang berperan mencegah produksi jaringan fibrous dan membantu
menghancurkannya.
-
Kolagenase. Merupakan suatu enzim yang
berperan melisiskan jaringan parut fibrosa.
Operasi.
Indikasi
operasi pada penyakit Peyronie adalah deformitas penis yang mengganggu senggama
atau disfungsi ereksi akibat penyakit Peyronie.Pembedahan biasanya tidak
direkomendasikan ketika kelengkungan penis tidak bertambah dan ereksi dirasakan
tidak nyeri setidaknya selama 6 bulan.
Metode
pembedahan yang umum meiputi :
-
Pemendekkan sisi yang tidak sakit.
Berbagai prosedur dapat digunakan untuk memendekkan sisi yang lebih panjang
pada penis (sisi tanpa jaringan parut). Tindakan ini bertujuan untuk menyamakan
panjang antara bagian yang sakit dan yang tidak, sehingga saat ereksi penis
menjadi relative lebih lurus. Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan panjang
penis yang cukup dan lebih lengkungan penis yang lebih ringan. Nesbit plication
merupakan suatu contoh dari prosedur tindakan ini. Pada beberapa kasus, jenis
pembedahan ini menyebabkan disfungsi ereksi.
-
Pemanjangan sisi yang sakit. Dengan tipe
pembedahan ini, ahli bedah membuat beberapa insisi pada jaringan parut,
memungkinkan sarung untuk merenggang dan penis menjadi lebih lurus. Ahli bedah
harus menyingkirkan sebagian jaringan parut. Setelah itu dilakukan graft
jaringan pada daerah yang dilakukan insisi tersebut. Graft dapat berasal dari
tubuh pasien sendiri atau material sintetis. Prosedur ini dilakukan bila pasien
memiliki penis yang pendek, kelengkungan yang parah, atau deformitas kompleks.
Prosedur ini memiliki resiko yang lebih besar untuk terjadinya disfungsi
ereksi.
-
Implan penis.Dilakukan insersi implant
penis dengan tindakan bedah untuk mengganti jaringan spongiosa yang terisi
darah pada saat ereksi. Implant dapat bersifat semi-rigid yang dapat dilipat
ketika tidak digunakan, dan dapat dinaikkan ketika ingin berhubungan seksual.
Jenis implant yang lain adalah implant yang disertai dengan pompa yang
diletakkan di lipat paha atau di skrotum. Implant penis dapat dipertimbangkan
jika pria memiliki penyakit peyroni disertai dengan disfungsi ereksi.
IX.
KOMPLIKASI
Komplikasi
yang dapat terjadi pada penyakit Peyronie antara lain :
-
Ketidakmampuan untuk melakukan hubungan
seksual
-
Disfungsi ereksi
-
Rasa cemas dan stress mengenai kemampuan
seksual atau penampilan dari penis
-
Stres pada hubungan dengan pasangan
-
Kesulitan memiliki anak
X.
PROGNOSA
Prognosa
penyakit Peyronie bergantung dari usia pasien, keadaan awal penyakit saat
berobat, kecepatan mendapatkan pengobatan, serta kondisi penyakit penyerta
lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Mayo Clinique Staff.2011. http://www.mayoclinic.com/health/peyronies-disease/DS00427.diakses pada
tanggal 18 Desember 2011.
Eli
Lizza, MD. 2011. http://emedicine.medscape.com/article/456574.diakses pada
tanggal 18 desember 2011.
Purnomo, Basuki B. 2007. Dasar-Dasar Urologi.Malang
: FK Universitas Brawijaya
M. A. Salam. 2003. Principle and Practice of
Urology. USA : BrownWalker Press
Syaifuddin, Haji.
(2002), Struktur dan Komponen Tubuh
Manusia, Jakarta : Widya Medika.
Walsh C. Patrick MD et al. 2002. Campbell’s Urology
Volume 4. UK : Saunders
No comments:
Post a Comment