"A Man can't make a mistake can't make anything"
Showing posts with label DIAGNOSA. Show all posts
Showing posts with label DIAGNOSA. Show all posts

Thursday, 17 April 2014

TENTANG PEYRONIE’S DISEASE DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN

PEYRONIE’S DISEASE


PENDAHULUAN

Seorangdokter asal Perancis François Gigot de Peyronie dikenal luas sebagai orang pertama yang mendeskripsikan pelengkungan penis, yang sekarang dikenal dengan nama penyakit Peyroni, pada tahun 1743. Etiologi yang tepat dari kondisi ini masih belum jelas.Penyakit ini dicirikan dengan lengkungan pada sarung penis yang sering disertai dengan rasa sakit saat ereksi dan disertai dengan suatu daerah fibrotik.Setelah beberapa tahun, beragam terapi medikasi dan pembedahan telah digunakan untuk mengatasi kondisi ini.

Penyakit Peyronie selain merupakan suatu kelainan secara organis, juga dapat menjadi sumber masalah signifikan dalam hubungan seksual,karena penyakit ini dapat menyebabkan kekhawatiran dan stress pada penderita dan pasangan.

Tulisan ini akan menjelaskan mengenai masalah penyakit Peyronie, evaluasi pasien dengan penyakit Peyronie, menjelaskan tentang terapi medikasi yang biasa diberikan, dan pilihan tindakan bedah yang telah tersedia

Wednesday, 10 April 2013

PENDEKATAN DIAGNOSA PADA IKTERUS DAN PENANGANANNYA


BAB I
PENDAHULUAN

Ikterus adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat konsentrasinya dalam sirkulasi darah. Bilirubin dibentuk sebagai akibat pemecahan cincin hem, biasanya sebagai akibat metabolisme sel darah merah.
Kata ikterus (jaundice) berasal dari kata Perancis jaune yang berarti kuning. Ikterus sebaiknya diperiksa di bawah cahaya terang siang hari, dengan melihat sklera mata. Ikterus dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu ikterus hemo­litik dan ikterus obstruktif.
Ikterus obstruktif, disebabkan oleh obstruksi duktus biliaris (yang sering ter­jadi bila sebuah batu empedu atau kanker menutupi duktus koledokus) atau kerusakan sel hati (yang ter­jadi pada hepatitis), kecepatan pembentukan bilirubin adalah normal, tapi bilirubin yang dibentuk tidak dapat lewat dari darah ke dalam usus.
Ikterus obstruktif atau bisa juga disebut kolestasis dibagi menjadi 2 yaitu kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik. Penyebab paling sering kolestatik intrahepatik adalah hepatitis, keracunan obat, penyakit hati karena alkohol dan penyakit hepatitis autoimun sedangkan penyebab paling sering pada kolestasis ekstrahepatik adalah batu duktus koledokus dan kanker pankreas. Penyebab lainnya yang relatif lebih jarang adalah striktur jinak (operasi terdahulu) pada duktus koledokus, karsinoma duktus koledokus, pankreatitis atau pseudocyst pankreas dan kolangitis sklerosing.
                Sumbatan bilier ekstra-hepatik biasanya membutuhkan tindakan pembedahan, ekstraksi batu empedu diduktus, atau insersi stent, dan drainase via kateter untuk striktur (sering keganasan) atau daerah penyempitan sebagian. Untuk sumbatan maligna yang non-operabel, drainase bilier paliatif dapat dilakukan melalui stent yang ditempatkan melalui hati (transhepatik) atau secara endoskopik.
Umumnya, jaundice non-obstruktif tidak membutuhkan intervensi bedah, sementara jaundice obstruktif biasanya membutuhkan intervensi bedah atau prosedur intervensi lainnya untuk pengobatan.


Saturday, 13 October 2012

SINDROMA SWYER DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN


SINDROM SWYER

DEFINISI
Sindrom Swyer, atau disgenesis gonad XY, adalah jenis hipogonadisme pada orang yang kariotipe adalah 46, XY. Orang tersebut secara eksternal wanita dengan gonad beruntun.
Ada dari disgenesis gonad. The "disgenesis gonad murni" panjang (PGD) atau sindrom Monica F telah digunakan untuk menggambarkan kondisi normal dengan set kromosom seks (misalnya, 46, XX atau 46, XY), seperti opp
Swyer sindrom merupakan salah satu hasil fenotipik kegagalan gonad untuk berkembang dengan baik, dan karenanya merupakan bagian dari sebuah kelas disebut kondisi disgenesis gonad. Ada banyak bentuk disgenesis gonad.
 Swyer sindrom adalah contoh dari suatu kondisi di mana tubuh perempuan eksternal jelas membawa gonad dysgenetic, atipikal, atau abnormal. Contoh lain termasuk lengkap androgen sindrom ketidakpekaan, penghapusan kromosom X parsial, hiperplasia adrenal kongenital lipoid, dan sindrom Turner.

Tuesday, 9 October 2012

APLIKASI ATS UNTUK TETANUS



TETANUS
Definisi
Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu protein yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.
Tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan sering fatal yang disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang menghasilkan tetanospasmin neurotoksin, biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka tusuk yang terkontaminasi (seperti oleh jarum logam, splinter kayu, atau gigitan serangga).
Tetanus (rahang terkunci (lockjaw)) adalah suatu penyakit toksemia akut dan fatal yang disebabkan oleh tetanuspasmin, neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani, dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta syaraf otonom.

Etiologi
Kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium Tetani; berbentuk batang yang langsing dengan ukuran panjang 2–5 um dan lebar 0,3–0,5 um, termasuk gram positif dan bersifat anaerob. Clostridium Tetani dapat dibedakan dari tipe lain berdasarkan flagella antigen.
Kuman tetanus ini membentuk spora yang berbentuk lonjong dengan ujung yang butat, khas seperti batang korek api (drum stick) Sifat spora ini tahan dalam air mendidih selama 4 jam, obat antiseptik tetapi mati dalam autoclaf bila dipanaskan selama 15–20 menit pada suhu 121°C. Bila tidak kena cahaya, maka spora dapat hidup di tanah berbulan–bulan bahkan sampai tahunan. Juga dapat merupakan flora usus normal dari kuda, sapi, babi, domba, anjing, kucing, tikus, ayam dan manusia. Spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif dalam anaerob dan kemudian berkembang biak.
Bentuk vegetatif tidak tahan terhadap panas dan beberapa antiseptik Kuman tetanus tumbuh subur pads suhu 17°C dalam media kaldu daging dan media agar darah. Demikian pula dalam media bebas gula karena kuman tetanus tidak dapat mengfermentasikan glukosa.
Kuman tetanus tidak invasif. tetapi kuman ini memproduksi 2 macam eksotoksin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanospasmis merupakan protein dengan berat molekul 150.000 Dalton, larut dalam air labil pada panas dan cahaya, rusak dengan enzim proteolitik. tetapi stabil dalam bentuk murni dan kering. Tetanospasmin disebut juga neurotoksin karena toksin ini melalui beberapa jalan dapat mencapai susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala berupa kekakuan (rigiditas), spasme otot dan kejang–kejang.

Thursday, 4 October 2012

DEFINISI,DIAGNOSA DAN PENANGANAN OSTEOPOROSIS


BAB I
PENDAHULUAN


Osteoporosis merupakan suatu keadaan penurunan massa tulang yang menyebabkan fraktur traumatik atau atraumatik. Osteoporosis merupakan masalah besar pada perawatan kesehatan karena beratnya konsekuensi fraktur pada pasien dan sistem perawatan kesehatan.1
Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari. Kurangnya asupan kalsium. Perubahan gaya hidup seperti merokok, alkohol dan berkurangnya latihan fisik. Penggunaan obat-obatan steroid jangka panjang. Serta risiko osteoporosis tanpa gejala klinis yang menyertainya.
Pada tulang normal selalu terjadi proses pembentukan dan penipisan tulang secara terus menerus. Hal ini bertujuan untuk menjaga massa tulang agar tidak terlalu berat sehingga tidak menganggu proses pergerakan. Seperti saya sebutkan diatas, pada osteoporosis, proses pembentukan tidak terjadi sementara proses penipisan berlangsung terus menerus.
Tulang yang tipis akan sangat lemah dan mudah patah dengan benturan yang ringan sekalipun. Pada tulang normal, benturan ini tidak akan menyebabkan apa apa, sementara pada penderita osteoporosis menyebabkan patah tulang yang parah. Hampir semua tulang mengalami hal ini termasuk tulang rusuk, panggul dan pergelangan tangan.











BAB II
OSTEOPOROSIS

II.1. DEFINISI
Berasal dari bahasa Latin, osteoporosis secara harfiah berarti tulang keropos, yang melibatkan baik mineral (anorganik) dan non-mineral (organik matriks) komponen tulang.
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang progresif dimana jaringan mineral tulang dalam keadaan normal, tetapi jumlah tulang berkurang dan integritas struktural tulang trabecular terganggu, menjadi lebih rapuh. Cortical tulang menjadi lebih keropos dan tipis. Sementara tulang yang lebih kecil belum tentu lebih rentan terhadap kerusakan, tulang yang bersifat lebih tipis dan rapuh lebih rentan terhadap fracture. Dimana keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur (thief in the night).

Monday, 27 August 2012

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN FISTULA ANI



FISTULA ANI

I. DEFINISI
            Fistula ani disebut juga fistel perianal atau fistel para-anal1. Fistula anorektal (Fistula ani) adalah komunikasi abnormal antara anus dan kulit perianal. Kelenjar pada kanalis ani terletak pada linea dentate menyediakan jalur organisme yang menginfeksi untuk dapat mencapai ruang intramuscular2.  

II. ETIOLOGI          
            Fistula dapat muncul secara spontan atau sekunder karena abses perianal (atau perirektal). Faktanya, setelah drainase dari abses periani, hampir 50 % terdapat kemungkinan untuk berkembang menjadi fistula yang kronik. Fistula lainnya dapat terjadi sekunder karena trauma, penyakit Crohn. fisura ani, karsinoma, terapi radiasi, aktinomikosis, tuberculosis, dan infeksi klamidia2
            Hipotesa kriptoglandular menyatakan bahwa infeksi bermula pada kelenjar ani dan berkembang menuju dinding otot dari sfingter ani yang menyebabkan abses anorektal. Setelah pembedahan atau drainase spontan pada kulit periani, biasanya jaringan granulasi dari traktus tertinggal, menyebabkan gejala yang berulang2
            Dapat disebabkan oleh perforasi atau penyaliran abses anorektum. Kadang fistel disebabkan oleh colitis yang disertai proktitis, seperti TBC, amubiasis, atau morbus Crohn. Infeksi dari kelenjar intersphincter di anal dengan organisme yang ditemukan di traktus gastrointestinal- baik aerob (Cth : E.coli) dan anaerob (Cth : Bacteroides spp.) – adalah penyebab gangguan yang umum terjadi ini.1

III. ABSES ANOREKTUM
            Biasanya abses perianal terjadi akibat glandula analis terinfeksi yang mengerosi ke dalam jaringan yang mendasari. Biakan dari fistula abses rektum anal memperlihatkan infeksi campuran dengan E.coli dominan. Penggunaan kronis purgatif dan enteritis regionalis merupakan faktor penyebab yang lazim. Infeksi yang tak lazim seperti aktinomikosis, tuberkulosis, dan penyakit jamur lain, penyakit peradangan pelvis, prostatitis dan kanker bisa jarang menyertai3.

DEFINITIONS, SYMPTOMS, SIGNS, DIAGNOSIS AND MANAGEMENT ANAL FISTEL/ DEFINISI,GEJALA,TANDA ,DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN FISTULA ANI


CHAPTER II
Fistula ANI

I. DEFINITION
Fistula ani also called perianal fistula or fistula para-anal1. Anorectal Fistula (Fistula ani) is an abnormal communication between the anus and perianal skin. Glands in the canal lies in linea dentate ani provides a pathway for the infecting organism can achieve intramuscular2 space.

II. Etiology
Fistulas can occur spontaneously or secondary to perianal abscess (or perirektal). In fact, after drainage of the abscess periani, nearly 50% are likely to develop into a chronic fistula. Other fistulas may occur secondary to trauma, Crohn's disease. ani fissures, carcinoma, radiation therapy, aktinomikosis, tuberculosis, and infections klamidia2.
Kriptoglandular hypothesis states that an infection begins in the gland ani and evolve into the muscular wall of the anal sphincter causing anorectal abscess. After surgical or spontaneous drainage periani on the skin, usually of the granulation tissue tract behind, causing symptoms berulang2.
Can be caused by perforation or abscess penyaliran anorektum. Sometimes fistula caused by colitis with proctitis, such as tuberculosis, amubiasis, or morbus Crohn. Infection of the anal glands intersphincter in organisms found in the gastrointestinal tract-either aerobic (Cth: E. coli) and anaerobes (Cth: Bacteroides spp.) - Is a common disorder that causes ini.1

Wednesday, 1 August 2012

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS EKSTRA PULMONAL / DIAGNOSIS AND TREATMENT OF EXTRA PULMONARY TUBERCULOSIS


Tulisan ini berjudul “EKSTRAPULMONAL TUBERKULOSA” ini , saya mengambil referensi dari literatur dan jaringan internet.,dalam proses penyelesaian karya tulis ini, juga untuk dukungannya baik dalam bentuk moril maupun dalam mencari referensi


1.SPONDILITIS TUBERKULOSA
I. Pendahuluan
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal yang dikenal pula dengan nama Pott’s disease of the spine atau tuberculous vertebral osteomyelitis merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Terhitung kurang lebih 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh Percival Pott pada tahun1779 yang menemukan adanya hubungan antara kelemahan alat gerak bawah dengan kurvatura tulang belakang, tetapi hal tersebut tidak dihubungkan dengan basil tuberkulosa hingga ditemukannya basil tersebut oleh Koch tahun 1882,sehingga etiologi untuk kejadian tersebut menjadi jelas.
Di waktu yang lampau, spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang dipergunakan untuk penyakit pada masa anak-anak, yang terutama berusia 3 – 5tahun. Saat ini dengan adanya perbaikan pelayanan kesehatan, maka insidensi usiaini mengalami perubahan sehingga golongan umur dewasa menjadi lebih sering terkena dibandingkan anak-anak.
Terapi konservatif yang diberikan pada pasien tuberkulosa tulang belakang sebenarnya memberikan hasil yang baik, namun pada kasus – kasus tertentu diperlukan tindakan operatif serta tindakan rehabilitasi yang harus dilakukandengan baik sebelum ataupun setelah penderita menjalani tindakan operatif.
II. Epidemiologi
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi di seluruh dunia dan biasanya berhubungan dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia serta kondisi sosial di negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan sedang berkembang, terutama di Asia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih menjadi merupakan masalah utama. Pada negara-negara yang sudah berkembang atau maju insidensi ini mengalami penurunan secara dramatis dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Perlu dicermati bahwa di Amerika dan Inggris insidensi penyakit ini mengalami peningkatan pada populasi imigran,tunawisma lanjut usia dan pada orang dengan tahap lanjut infeksi HIV (Medical Research Council TB and Chest Diseases Unit 1980). Selain itu dari penelitian juga diketahui bahwa peminum alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang adalah kelompok beresiko besar terkena penyakit ini.

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN FRAKTUR TULANG WAJAH ( LE FORT FRACTURE)


FRAKTUR LE FORT
I.                   PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu tulang frontal, temporal, orbitozigomatikus, nasal, maksila dan mandibula. Fraktur maksilofasial lebih sering terjadi sebagai akibat dari faktor yang datngnya dari luar seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja , kecelakaan akibat olah raga dan juga sebagai akibat dari tindakan kekerasan. Tujuan utama perawatan fraktur maksilofasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat, pengembalian fungsi okuler, fungsi pengunyah, fungsi hidung, perbaikan fungsi bicara, mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakitakibat adanya mobilitas segmen tulang.
Wajah dapat dibagi menjadi tiga daerah (sub-unit), setiap daerah memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Sub-unit paling atas terdiri dari tulang frontal yang secara prinsip berfungsi berfungsi sebagai 

Wednesday, 25 July 2012

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN PROLAPS REKTI / DIAGNOSIS AND MANAGEMENT RECTAL PROLAPS


DAFTAR ISI            
                                                                                                .
KATA PENGANTAR………………………………………………….........          i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………          2
BAB    I. PENDAHULUAN………………………………………................           3       
BAB    II. ISI
I.          ANATOMI……………………………………………………         4
II.                PROLAPS PADA ANAK……………………………………          9
III.             PROLAPS PADA DEWASA ………………………………..         11    
BAB III. KESIMPULAN …………………………………….         13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      14














BAB I
PENDAHULUAN

           
Prodensia atau prolaps rectum yang berupa keluarnya seluruh dinding rectum harus dibedakan dari prolaps mukosa yang dapat terjadi pada hemoroid interna. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen.penunjang rectum terdiri dari mesentrium dorsal, lipatan peritoneum, berbagai fasia, dan m.levator rectum.  Bagian puborectum dari m.levator melibatkan rectum sehingga rectum dan anus membentuk sudut tajam.  Prolaps rectum pada anak ditemukan sebagai kelainan bawaan atau karena kebiasaan menahan fesesnya. Pada orang dewasa, prolaps kadang dibebabkan oleh cidera m.puborectalis atau paralisis otot panggul.









ISI
BAB II
I.                   Anatomi
Kanalis ani berasal dari invaginasi ektoderm, sedang rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal ini, maka terdapat perbedaan pula pada epitel pelapisnya, vaskularisasinya, inervasi dan drainase limfatiknya. (Marijata, 2000).
Lumen rektum dilapisi mukosa glanduler usus sedang kanalis ani dilapisi epitel squamosum stratifikatum lanjutan kulit luar. Jadi tidak ada mukosa anus. Daerah batas antara rektum dan kanalis ani disebut Anorectal Junction  ditandai oleh linea pectinea / linea dentata yang terdiri dari sel-sel transisional. Dari linea ini kearah rectum ada kolumna rectalis (Morgagni), dengan diantaranya terdapat sinus rectalis yang berakhir di kaudal sebagai valvula rectalis. Setinggi linea dentata ini ada crypta analis dan muara muara analis.
Panjang kanalis ani kira kira 4 cm yang dibedakan menjadi anatomical anal canal mulai anal verge sampai ke linea dentata dan Surgical anal canal untuk kepentingan klinis yang dimulai dari analverge sampai cincin anorektal yang merupakan batas paling bawah dari otot puborectalis yang dapat diraba pada waktu RT.



                       

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN PROLAPS REKTI / DIAGNOSIS AND MANAGEMENT RECTAL PROLAPS


DAFTAR ISI            
                                                                                                .
KATA PENGANTAR………………………………………………….........          i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………          2
BAB    I. PENDAHULUAN………………………………………................           3       
BAB    II. ISI
I.          ANATOMI……………………………………………………         4
II.                PROLAPS PADA ANAK……………………………………          9
III.             PROLAPS PADA DEWASA ………………………………..         11    
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………….         13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      14














BAB I
PENDAHULUAN

           
Prodensia atau prolaps rectum yang berupa keluarnya seluruh dinding rectum harus dibedakan dari prolaps mukosa yang dapat terjadi pada hemoroid interna. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen.penunjang rectum terdiri dari mesentrium dorsal, lipatan peritoneum, berbagai fasia, dan m.levator rectum.  Bagian puborectum dari m.levator melibatkan rectum sehingga rectum dan anus membentuk sudut tajam.  Prolaps rectum pada anak ditemukan sebagai kelainan bawaan atau karena kebiasaan menahan fesesnya. Pada orang dewasa, prolaps kadang dibebabkan oleh cidera m.puborectalis atau paralisis otot panggul.









ISI
BAB II
I.                   Anatomi
Kanalis ani berasal dari invaginasi ektoderm, sedang rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal ini, maka terdapat perbedaan pula pada epitel pelapisnya, vaskularisasinya, inervasi dan drainase limfatiknya. (Marijata, 2000).
Lumen rektum dilapisi mukosa glanduler usus sedang kanalis ani dilapisi epitel squamosum stratifikatum lanjutan kulit luar. Jadi tidak ada mukosa anus. Daerah batas antara rektum dan kanalis ani disebut Anorectal Junction  ditandai oleh linea pectinea / linea dentata yang terdiri dari sel-sel transisional. Dari linea ini kearah rectum ada kolumna rectalis (Morgagni), dengan diantaranya terdapat sinus rectalis yang berakhir di kaudal sebagai valvula rectalis. Setinggi linea dentata ini ada crypta analis dan muara muara analis.
Panjang kanalis ani kira kira 4 cm yang dibedakan menjadi anatomical anal canal mulai anal verge sampai ke linea dentata dan Surgical anal canal untuk kepentingan klinis yang dimulai dari analverge sampai cincin anorektal yang merupakan batas paling bawah dari otot puborectalis yang dapat diraba pada waktu RT.



                       
Dasar panggul dibentuk oleh otot levator ani yang dibentuk oleh otot-otot pubococcygeus, ileococcygeus dan puborectalis. Otot-otot yang berfungsi mengatur mekanisme kontinensia adalah :
  1. Pubo-rektal merupakan bagian dari otot levator ani
  2. Sfingter ani eksternus (otot lurik)
  3. Sfingter ani internus (otot polos)
Batas antara spincter ani eksternus & internus disebut garis Hilton. Muskulus yang menyangga adalah m. Puborectalis. Otot yang memegang peranan terpenting dalam mengatur mekanisme kontinensia adalah otot-otot puborektal. Bila m. pubo-rektal tersebut terputus, dapat mengakibatkan terjadinya inkontinensia.

Muskulus puborektalis yang merupakan bagian m. levator ani membentuk jerat yang melingkari rektum sehingga berfungsi sebagai penyangga. Rektum juga ditopang oleh fascia pelvis parietalis (fascia Waldeyer), ligamentum laterale kanan dan kiri yang ditembus oleh a/v hemorrhoidales media dan mesorektum. Ligamentum dan mesorektum memfiksasi rectum ke permukaan anterior sacrum.
Batas-batas kanalis ani, ke kranial berbatasan dengan rectum disebut ring anorektal, ke kaudal dengan permukaan kulit disebut garis anorektal, ke lateral dengan fossa ischiorectalis, ke posterior dengan os koksigeus, ke anterior pada laki-laki dengan sentral perineum, bulbus urethra dan batas posterior diafragma urogenital (ligamentum triangulare) sedang pada wanita korpus perineal, diafragma urogenitalis dan bagian paling bawah dari dinding vagina posterior. Ring anorektal dibentuk oleh m.puborektalis yang merupakan bagian serabut m. levator ani mengelilingi bagian bawah anus bersama m. spincter ani ekternus.
                          

                               
Vaskularisasi kanal anal berasal dari :
  • A. Hemorrhoidalis superior  , cabang dari a. mesenterika inferior
  • A. Hemorrhoidalis media   , cabang dari a. iliaca eksterna
  • A. Hemorrhoidalis inferior , cabang dari a. pudenda
Aliran vena diatas anorektal junction melalui sistem porta sedang canalis ani langsung ke vena cava inferior.
  • V. Hemorrhoid superior
Berasaldari plexus venosus hemorrhoidalis internus bermuara ke  v.mesenteruca inferior kemudian ke  v.porta Vena ini tidak mempunyai valvula, sering untuk penyebaran kanker
  • V. Hemorrhoid inferior
Mengalirkan darah dari v.pudenda interna menuju ke v.iliaca interna bermuara di vena cava. Sering menimbulkan gejala hemorrhoid.
Aliran limfe dari rektum mengikuti vasa hemoroidales superior ke lnn mesenterika inferior menuju lnn para aorta, sedang dari kanalis ani menuju ke lnn inguinalis kemudian lnn illiaca ekterna dan lnn illiaci kommunis, sehingga bila ada keganasan dan infeksi dapat menyebar sampai inguinal.
Inervasi kanalis ani diatur oleh saraf somatik sehingga sangat sensitif terhadap rasa sakit, sedang rektum oleh saraf viseral sehingga kurang sensitif terhadap rasa sakit. Rektum diinervasi oleh saraf simpatis dari pleksus mesenterika inferior dan n.presakralis (hipogastrica)  yang berasal dari L2,3,4 dan saraf parasimpatis dari S2,3,4.
Pemeriksaan Anorektum ( Proktologi )
  • Inspeksi & Palpasi
Dideteksi : Fissura ani, abses perianal, fistel perianal, hemorrhoid, prolaps
  • Colok dubur / RT
  • Anuskopi  untuk melihat kanalis ani dan bagian bawah rektum sejauh  10 cm
  • Proktoskopi : 15 cm
  • Proktosigmoideskopi : melihat rektum, colon sigmoid
Posisi pasien pada pemeriksaan Anorektum :
  1. Knee chest (menungging)
  2. Lithotomi
  3. Sims (miring kekiri dengan paha ditekuk)
                                                   

 II.     
 Prolaps pada anak
Pencetus timbulnya prolaps pada anak yaitu mengedan pada anak dengan obstipasi kronik atau pada anak dengan diare kronik karena sindroma malabsorbsi atau kondisi malnutrisi. Anak sehat sering aktif main sering segan defekasi.  Ia selau menahan defekasi sehingga kalau terpaksa defekasi feses dikeluarkan secara mendadak dengan tenaga tinggi mengakibatkan mukosa rectum terdorong keluar lubang anus.
Kadang prolaps disebabkan kelainan organic seperti pada prolaps rectum yang terjadi akibat paresis spingter anus pada meningokel atau agenesis sacrum, otot dasar panggul hipotonik akibat kurang gizi atau pascaanoplastik atau rectoplastik pada malformasi anorektal akibat mukosa rectum yang berlebihan. Pada vesika ektopik, sering ditemukan prolaps dari rectum karena simfisis pubis terpisah jauh, sedangkan  origo otot puborectalis terdapat disitu.
                     
                       


Gejala klinis
Pada umumnya dengan prolaps recti memempunyai susunan anatomi yang normal. Mukosa rectum keluar saat defekasi, dan masuk kembali saat tanpa menimbulkan rasa nyeri. Kadang diperlukan dorongan tangan. Pada sebagian pasien, mukosa yang prolaps tersebut tidak dapat kembali walau didorong. Hal ini akan menimbulkan udem, nyeri, dan acapkali berdarah
Diagnosis banding
Pada rectum prolaps atau ujung distal dari invaginasi dapat menonjol keluar anus. Keadaan ini dapat dibedakan dari  prolaps rectum dengan memasukan jari diantara dinding anus yang keluar dengan cincin anus tempat adanya rongga yang dalam.
Terapi
Diberikan pelunak feses beberapa minggu agar tekanan mengedan berkurang. Cara defekasi sebaiknya duduk, tidak jongkok untuk mengurangi tekanan pada waktu mengedan. Perbaikan keaadan umum dan nutrisi merupakan dasar pengobatan. Bila perlu tindakan bedah * yang jarang diperlukan),  dapat dilakukan cara thiersch yaitu jahitan melingkar subkutan pada sfingter eksterna dua rangkap.





III.     Prolaps rectum pada dewasa
Pada permulaan, prolaps masih keci, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposisi. Prolaps tambah berat karena udem, sehingga makin besar dan sama sekali tidak dapat dimasukan kembal karena rangsangan dan bendungan mucus serta keluarnya darah. Sfinfter anus menjadi longgar dan hipotonik sehingga terjadi inkontinensia feses.
Pada pemeriksaan stadium permulaan terdapat penonjolan dengan lipatan mukosa konsentrik. Pemeriksaan harus dilengkapi dengan endoskopi dan atau foto rontgen kolon untuk menyingkirkan penyakit kolon kausal dan pemeriksaan untuk kausa neurologic.
Diagnosis  prolaps rectum
    1. Penonjolan rectum dari anus
    2. Inkontinensia tinja parsial atau total
    3. Pengeluaran mucus
                    
Diagnosis banding
Pada prolaps mukosa, lipatan mukosa menunjukan gambaran radier. Kadang ada prolaps polip yang bertangkai atau papil rectum yang hipertropik.
Tatalaksana
Pada orang dewasa muda dan anak diberikan diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Pada operasi thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps. Keuntungannya ialah oprasinya ringan, tetapi terdapat penyulit impaksi feses, infeksi, dan erosi pita kedalam rectum.
Rektopeksia yang dilakukan melalui laparotomi bukan merupakan oprasi yang ringan. Rectum dimobilisasi dari panggul dan dilepaskan dan dilepaskan dari jaringan sekitarnya, kemudian ditarik keatas dan difiksasi kedalam sacrum. Fiksasi rectum atau retropeksi ini dapat dilakukan oleh bahan Teflon jahitan mersilen. Kadang dilakukan sigmoidektomi dan kolon desendens dianastomosis dengan sisa rectum.  
                          

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Prolaps rectum yaitu berupa keluarnya seluruh dinding rectum. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen. Prolap rectum kecil biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposis. Diagnosis dari prolaps recti yaitu  penonjolan rectum dari anus, Inkontinensia tinja parsial atau total, dan pengeluaran mucus. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Adapun tekhnik operasinya yaitu thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps.
Saran bagi penderita yaitu diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul.







DAFTAR PUSTAKA
1.      Grace P, Borley N. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga.Jakarta : Erlangga.2006.115
2.      Samsuhidajat R, De Jong W. Buku ajar Ilmu bedah Edisi 2. Jakarta : EGC.2004.678-679
3.      Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta : EGC.2000.424
4.      Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah bagian 2. Jakarta: EGC 1994.64
5.      Doherty, M Gerard. Current Surgical Diagnosis and Treatment, Ed 12, USA: The McGraw-Hill Companies Inc. 2006.705-707
7.      http://en.wikipedia.org/wiki/Prolapse







DAFTAR ISI            
                                                                                                .
KATA PENGANTAR………………………………………………….........          i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………          2
BAB    I. PENDAHULUAN………………………………………................           3       
BAB    II. ISI
I.          ANATOMI……………………………………………………         4
II.                PROLAPS PADA ANAK……………………………………          9
III.             PROLAPS PADA DEWASA ………………………………..         11    
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………….         13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      14














BAB I
PENDAHULUAN

           
Prodensia atau prolaps rectum yang berupa keluarnya seluruh dinding rectum harus dibedakan dari prolaps mukosa yang dapat terjadi pada hemoroid interna. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen.penunjang rectum terdiri dari mesentrium dorsal, lipatan peritoneum, berbagai fasia, dan m.levator rectum.  Bagian puborectum dari m.levator melibatkan rectum sehingga rectum dan anus membentuk sudut tajam.  Prolaps rectum pada anak ditemukan sebagai kelainan bawaan atau karena kebiasaan menahan fesesnya. Pada orang dewasa, prolaps kadang dibebabkan oleh cidera m.puborectalis atau paralisis otot panggul.









ISI
BAB II
I.                   Anatomi
Kanalis ani berasal dari invaginasi ektoderm, sedang rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal ini, maka terdapat perbedaan pula pada epitel pelapisnya, vaskularisasinya, inervasi dan drainase limfatiknya. (Marijata, 2000).
Lumen rektum dilapisi mukosa glanduler usus sedang kanalis ani dilapisi epitel squamosum stratifikatum lanjutan kulit luar. Jadi tidak ada mukosa anus. Daerah batas antara rektum dan kanalis ani disebut Anorectal Junction  ditandai oleh linea pectinea / linea dentata yang terdiri dari sel-sel transisional. Dari linea ini kearah rectum ada kolumna rectalis (Morgagni), dengan diantaranya terdapat sinus rectalis yang berakhir di kaudal sebagai valvula rectalis. Setinggi linea dentata ini ada crypta analis dan muara muara analis.
Panjang kanalis ani kira kira 4 cm yang dibedakan menjadi anatomical anal canal mulai anal verge sampai ke linea dentata dan Surgical anal canal untuk kepentingan klinis yang dimulai dari analverge sampai cincin anorektal yang merupakan batas paling bawah dari otot puborectalis yang dapat diraba pada waktu RT.



                      
Dasar panggul dibentuk oleh otot levator ani yang dibentuk oleh otot-otot pubococcygeus, ileococcygeus dan puborectalis. Otot-otot yang berfungsi mengatur mekanisme kontinensia adalah :
  1. Pubo-rektal merupakan bagian dari otot levator ani
  2. Sfingter ani eksternus (otot lurik)
  3. Sfingter ani internus (otot polos)
Batas antara spincter ani eksternus & internus disebut garis Hilton. Muskulus yang menyangga adalah m. Puborectalis. Otot yang memegang peranan terpenting dalam mengatur mekanisme kontinensia adalah otot-otot puborektal. Bila m. pubo-rektal tersebut terputus, dapat mengakibatkan terjadinya inkontinensia.

Muskulus puborektalis yang merupakan bagian m. levator ani membentuk jerat yang melingkari rektum sehingga berfungsi sebagai penyangga. Rektum juga ditopang oleh fascia pelvis parietalis (fascia Waldeyer), ligamentum laterale kanan dan kiri yang ditembus oleh a/v hemorrhoidales media dan mesorektum. Ligamentum dan mesorektum memfiksasi rectum ke permukaan anterior sacrum.
Batas-batas kanalis ani, ke kranial berbatasan dengan rectum disebut ring anorektal, ke kaudal dengan permukaan kulit disebut garis anorektal, ke lateral dengan fossa ischiorectalis, ke posterior dengan os koksigeus, ke anterior pada laki-laki dengan sentral perineum, bulbus urethra dan batas posterior diafragma urogenital (ligamentum triangulare) sedang pada wanita korpus perineal, diafragma urogenitalis dan bagian paling bawah dari dinding vagina posterior. Ring anorektal dibentuk oleh m.puborektalis yang merupakan bagian serabut m. levator ani mengelilingi bagian bawah anus bersama m. spincter ani ekternus.
                          
                          Description: Anorektum     
Vaskularisasi kanal anal berasal dari :
  • A. Hemorrhoidalis superior  , cabang dari a. mesenterika inferior
  • A. Hemorrhoidalis media   , cabang dari a. iliaca eksterna
  • A. Hemorrhoidalis inferior , cabang dari a. pudenda
Aliran vena diatas anorektal junction melalui sistem porta sedang canalis ani langsung ke vena cava inferior.
  • V. Hemorrhoid superior
Berasaldari plexus venosus hemorrhoidalis internus bermuara ke  v.mesenteruca inferior kemudian ke  v.porta Vena ini tidak mempunyai valvula, sering untuk penyebaran kanker
  • V. Hemorrhoid inferior
Mengalirkan darah dari v.pudenda interna menuju ke v.iliaca interna bermuara di vena cava. Sering menimbulkan gejala hemorrhoid.
Aliran limfe dari rektum mengikuti vasa hemoroidales superior ke lnn mesenterika inferior menuju lnn para aorta, sedang dari kanalis ani menuju ke lnn inguinalis kemudian lnn illiaca ekterna dan lnn illiaci kommunis, sehingga bila ada keganasan dan infeksi dapat menyebar sampai inguinal.
Inervasi kanalis ani diatur oleh saraf somatik sehingga sangat sensitif terhadap rasa sakit, sedang rektum oleh saraf viseral sehingga kurang sensitif terhadap rasa sakit. Rektum diinervasi oleh saraf simpatis dari pleksus mesenterika inferior dan n.presakralis (hipogastrica)  yang berasal dari L2,3,4 dan saraf parasimpatis dari S2,3,4.
Pemeriksaan Anorektum ( Proktologi )
  • Inspeksi & Palpasi
Dideteksi : Fissura ani, abses perianal, fistel perianal, hemorrhoid, prolaps
  • Colok dubur / RT
  • Anuskopi  untuk melihat kanalis ani dan bagian bawah rektum sejauh  10 cm
  • Proktoskopi : 15 cm
  • Proktosigmoideskopi : melihat rektum, colon sigmoid
Posisi pasien pada pemeriksaan Anorektum :
  1. Knee chest (menungging)
  2. Lithotomi
  3. Sims (miring kekiri dengan paha ditekuk)
                                                  

 II.     
 Prolaps pada anak
Pencetus timbulnya prolaps pada anak yaitu mengedan pada anak dengan obstipasi kronik atau pada anak dengan diare kronik karena sindroma malabsorbsi atau kondisi malnutrisi. Anak sehat sering aktif main sering segan defekasi.  Ia selau menahan defekasi sehingga kalau terpaksa defekasi feses dikeluarkan secara mendadak dengan tenaga tinggi mengakibatkan mukosa rectum terdorong keluar lubang anus.
Kadang prolaps disebabkan kelainan organic seperti pada prolaps rectum yang terjadi akibat paresis spingter anus pada meningokel atau agenesis sacrum, otot dasar panggul hipotonik akibat kurang gizi atau pascaanoplastik atau rectoplastik pada malformasi anorektal akibat mukosa rectum yang berlebihan. Pada vesika ektopik, sering ditemukan prolaps dari rectum karena simfisis pubis terpisah jauh, sedangkan  origo otot puborectalis terdapat disitu.
                     
                       


Gejala klinis
Pada umumnya dengan prolaps recti memempunyai susunan anatomi yang normal. Mukosa rectum keluar saat defekasi, dan masuk kembali saat tanpa menimbulkan rasa nyeri. Kadang diperlukan dorongan tangan. Pada sebagian pasien, mukosa yang prolaps tersebut tidak dapat kembali walau didorong. Hal ini akan menimbulkan udem, nyeri, dan acapkali berdarah
Diagnosis banding
Pada rectum prolaps atau ujung distal dari invaginasi dapat menonjol keluar anus. Keadaan ini dapat dibedakan dari  prolaps rectum dengan memasukan jari diantara dinding anus yang keluar dengan cincin anus tempat adanya rongga yang dalam.
Terapi
Diberikan pelunak feses beberapa minggu agar tekanan mengedan berkurang. Cara defekasi sebaiknya duduk, tidak jongkok untuk mengurangi tekanan pada waktu mengedan. Perbaikan keaadan umum dan nutrisi merupakan dasar pengobatan. Bila perlu tindakan bedah * yang jarang diperlukan),  dapat dilakukan cara thiersch yaitu jahitan melingkar subkutan pada sfingter eksterna dua rangkap.





III.     Prolaps rectum pada dewasa
Pada permulaan, prolaps masih keci, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposisi. Prolaps tambah berat karena udem, sehingga makin besar dan sama sekali tidak dapat dimasukan kembal karena rangsangan dan bendungan mucus serta keluarnya darah. Sfinfter anus menjadi longgar dan hipotonik sehingga terjadi inkontinensia feses.
Pada pemeriksaan stadium permulaan terdapat penonjolan dengan lipatan mukosa konsentrik. Pemeriksaan harus dilengkapi dengan endoskopi dan atau foto rontgen kolon untuk menyingkirkan penyakit kolon kausal dan pemeriksaan untuk kausa neurologic.
Diagnosis  prolaps rectum
    1. Penonjolan rectum dari anus
    2. Inkontinensia tinja parsial atau total
    3. Pengeluaran mucus
                   
Diagnosis banding
Pada prolaps mukosa, lipatan mukosa menunjukan gambaran radier. Kadang ada prolaps polip yang bertangkai atau papil rectum yang hipertropik.
Tatalaksana
Pada orang dewasa muda dan anak diberikan diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Pada operasi thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps. Keuntungannya ialah oprasinya ringan, tetapi terdapat penyulit impaksi feses, infeksi, dan erosi pita kedalam rectum.
Rektopeksia yang dilakukan melalui laparotomi bukan merupakan oprasi yang ringan. Rectum dimobilisasi dari panggul dan dilepaskan dan dilepaskan dari jaringan sekitarnya, kemudian ditarik keatas dan difiksasi kedalam sacrum. Fiksasi rectum atau retropeksi ini dapat dilakukan oleh bahan Teflon jahitan mersilen. Kadang dilakukan sigmoidektomi dan kolon desendens dianastomosis dengan sisa rectum.  
                         
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Prolaps rectum yaitu berupa keluarnya seluruh dinding rectum. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen. Prolap rectum kecil biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposis. Diagnosis dari prolaps recti yaitu  penonjolan rectum dari anus, Inkontinensia tinja parsial atau total, dan pengeluaran mucus. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Adapun tekhnik operasinya yaitu thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps.
Saran bagi penderita yaitu diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul.







DAFTAR PUSTAKA
1.      Grace P, Borley N. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga.Jakarta : Erlangga.2006.115
2.      Samsuhidajat R, De Jong W. Buku ajar Ilmu bedah Edisi 2. Jakarta : EGC.2004.678-679
3.      Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta : EGC.2000.424
4.      Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah bagian 2. Jakarta: EGC 1994.64
5.      Doherty, M Gerard. Current Surgical Diagnosis and Treatment, Ed 12, USA: The McGraw-Hill Companies Inc. 2006.705-707
7.      http://en.wikipedia.org/wiki/Prolapse















 DAFTAR ISI            
                                                                                                .
KATA PENGANTAR………………………………………………….........          i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………          2
BAB    I. PENDAHULUAN………………………………………................           3       
BAB    II. ISI
I.          ANATOMI……………………………………………………         4
II.                PROLAPS PADA ANAK……………………………………          9
III.             PROLAPS PADA DEWASA ………………………………..         11    
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………….         13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      14














BAB I
PENDAHULUAN

           
Prodensia atau prolaps rectum yang berupa keluarnya seluruh dinding rectum harus dibedakan dari prolaps mukosa yang dapat terjadi pada hemoroid interna. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen.penunjang rectum terdiri dari mesentrium dorsal, lipatan peritoneum, berbagai fasia, dan m.levator rectum.  Bagian puborectum dari m.levator melibatkan rectum sehingga rectum dan anus membentuk sudut tajam.  Prolaps rectum pada anak ditemukan sebagai kelainan bawaan atau karena kebiasaan menahan fesesnya. Pada orang dewasa, prolaps kadang dibebabkan oleh cidera m.puborectalis atau paralisis otot panggul.









ISI
BAB II
I.                   Anatomi
Kanalis ani berasal dari invaginasi ektoderm, sedang rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal ini, maka terdapat perbedaan pula pada epitel pelapisnya, vaskularisasinya, inervasi dan drainase limfatiknya. (Marijata, 2000).
Lumen rektum dilapisi mukosa glanduler usus sedang kanalis ani dilapisi epitel squamosum stratifikatum lanjutan kulit luar. Jadi tidak ada mukosa anus. Daerah batas antara rektum dan kanalis ani disebut Anorectal Junction  ditandai oleh linea pectinea / linea dentata yang terdiri dari sel-sel transisional. Dari linea ini kearah rectum ada kolumna rectalis (Morgagni), dengan diantaranya terdapat sinus rectalis yang berakhir di kaudal sebagai valvula rectalis. Setinggi linea dentata ini ada crypta analis dan muara muara analis.
Panjang kanalis ani kira kira 4 cm yang dibedakan menjadi anatomical anal canal mulai anal verge sampai ke linea dentata dan Surgical anal canal untuk kepentingan klinis yang dimulai dari analverge sampai cincin anorektal yang merupakan batas paling bawah dari otot puborectalis yang dapat diraba pada waktu RT.



                      
Dasar panggul dibentuk oleh otot levator ani yang dibentuk oleh otot-otot pubococcygeus, ileococcygeus dan puborectalis. Otot-otot yang berfungsi mengatur mekanisme kontinensia adalah :
  1. Pubo-rektal merupakan bagian dari otot levator ani
  2. Sfingter ani eksternus (otot lurik)
  3. Sfingter ani internus (otot polos)
Batas antara spincter ani eksternus & internus disebut garis Hilton. Muskulus yang menyangga adalah m. Puborectalis. Otot yang memegang peranan terpenting dalam mengatur mekanisme kontinensia adalah otot-otot puborektal. Bila m. pubo-rektal tersebut terputus, dapat mengakibatkan terjadinya inkontinensia.

Muskulus puborektalis yang merupakan bagian m. levator ani membentuk jerat yang melingkari rektum sehingga berfungsi sebagai penyangga. Rektum juga ditopang oleh fascia pelvis parietalis (fascia Waldeyer), ligamentum laterale kanan dan kiri yang ditembus oleh a/v hemorrhoidales media dan mesorektum. Ligamentum dan mesorektum memfiksasi rectum ke permukaan anterior sacrum.
Batas-batas kanalis ani, ke kranial berbatasan dengan rectum disebut ring anorektal, ke kaudal dengan permukaan kulit disebut garis anorektal, ke lateral dengan fossa ischiorectalis, ke posterior dengan os koksigeus, ke anterior pada laki-laki dengan sentral perineum, bulbus urethra dan batas posterior diafragma urogenital (ligamentum triangulare) sedang pada wanita korpus perineal, diafragma urogenitalis dan bagian paling bawah dari dinding vagina posterior. Ring anorektal dibentuk oleh m.puborektalis yang merupakan bagian serabut m. levator ani mengelilingi bagian bawah anus bersama m. spincter ani ekternus.
                          
                          Description: Anorektum     
Vaskularisasi kanal anal berasal dari :
  • A. Hemorrhoidalis superior  , cabang dari a. mesenterika inferior
  • A. Hemorrhoidalis media   , cabang dari a. iliaca eksterna
  • A. Hemorrhoidalis inferior , cabang dari a. pudenda
Aliran vena diatas anorektal junction melalui sistem porta sedang canalis ani langsung ke vena cava inferior.
  • V. Hemorrhoid superior
Berasaldari plexus venosus hemorrhoidalis internus bermuara ke  v.mesenteruca inferior kemudian ke  v.porta Vena ini tidak mempunyai valvula, sering untuk penyebaran kanker
  • V. Hemorrhoid inferior
Mengalirkan darah dari v.pudenda interna menuju ke v.iliaca interna bermuara di vena cava. Sering menimbulkan gejala hemorrhoid.
Aliran limfe dari rektum mengikuti vasa hemoroidales superior ke lnn mesenterika inferior menuju lnn para aorta, sedang dari kanalis ani menuju ke lnn inguinalis kemudian lnn illiaca ekterna dan lnn illiaci kommunis, sehingga bila ada keganasan dan infeksi dapat menyebar sampai inguinal.
Inervasi kanalis ani diatur oleh saraf somatik sehingga sangat sensitif terhadap rasa sakit, sedang rektum oleh saraf viseral sehingga kurang sensitif terhadap rasa sakit. Rektum diinervasi oleh saraf simpatis dari pleksus mesenterika inferior dan n.presakralis (hipogastrica)  yang berasal dari L2,3,4 dan saraf parasimpatis dari S2,3,4.
Pemeriksaan Anorektum ( Proktologi )
  • Inspeksi & Palpasi
Dideteksi : Fissura ani, abses perianal, fistel perianal, hemorrhoid, prolaps
  • Colok dubur / RT
  • Anuskopi  untuk melihat kanalis ani dan bagian bawah rektum sejauh  10 cm
  • Proktoskopi : 15 cm
  • Proktosigmoideskopi : melihat rektum, colon sigmoid
Posisi pasien pada pemeriksaan Anorektum :
  1. Knee chest (menungging)
  2. Lithotomi
  3. Sims (miring kekiri dengan paha ditekuk)
                                                  

 II.     
 Prolaps pada anak
Pencetus timbulnya prolaps pada anak yaitu mengedan pada anak dengan obstipasi kronik atau pada anak dengan diare kronik karena sindroma malabsorbsi atau kondisi malnutrisi. Anak sehat sering aktif main sering segan defekasi.  Ia selau menahan defekasi sehingga kalau terpaksa defekasi feses dikeluarkan secara mendadak dengan tenaga tinggi mengakibatkan mukosa rectum terdorong keluar lubang anus.
Kadang prolaps disebabkan kelainan organic seperti pada prolaps rectum yang terjadi akibat paresis spingter anus pada meningokel atau agenesis sacrum, otot dasar panggul hipotonik akibat kurang gizi atau pascaanoplastik atau rectoplastik pada malformasi anorektal akibat mukosa rectum yang berlebihan. Pada vesika ektopik, sering ditemukan prolaps dari rectum karena simfisis pubis terpisah jauh, sedangkan  origo otot puborectalis terdapat disitu.
                     
                       


Gejala klinis
Pada umumnya dengan prolaps recti memempunyai susunan anatomi yang normal. Mukosa rectum keluar saat defekasi, dan masuk kembali saat tanpa menimbulkan rasa nyeri. Kadang diperlukan dorongan tangan. Pada sebagian pasien, mukosa yang prolaps tersebut tidak dapat kembali walau didorong. Hal ini akan menimbulkan udem, nyeri, dan acapkali berdarah
Diagnosis banding
Pada rectum prolaps atau ujung distal dari invaginasi dapat menonjol keluar anus. Keadaan ini dapat dibedakan dari  prolaps rectum dengan memasukan jari diantara dinding anus yang keluar dengan cincin anus tempat adanya rongga yang dalam.
Terapi
Diberikan pelunak feses beberapa minggu agar tekanan mengedan berkurang. Cara defekasi sebaiknya duduk, tidak jongkok untuk mengurangi tekanan pada waktu mengedan. Perbaikan keaadan umum dan nutrisi merupakan dasar pengobatan. Bila perlu tindakan bedah * yang jarang diperlukan),  dapat dilakukan cara thiersch yaitu jahitan melingkar subkutan pada sfingter eksterna dua rangkap.





III.     Prolaps rectum pada dewasa
Pada permulaan, prolaps masih keci, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposisi. Prolaps tambah berat karena udem, sehingga makin besar dan sama sekali tidak dapat dimasukan kembal karena rangsangan dan bendungan mucus serta keluarnya darah. Sfinfter anus menjadi longgar dan hipotonik sehingga terjadi inkontinensia feses.
Pada pemeriksaan stadium permulaan terdapat penonjolan dengan lipatan mukosa konsentrik. Pemeriksaan harus dilengkapi dengan endoskopi dan atau foto rontgen kolon untuk menyingkirkan penyakit kolon kausal dan pemeriksaan untuk kausa neurologic.
Diagnosis  prolaps rectum
    1. Penonjolan rectum dari anus
    2. Inkontinensia tinja parsial atau total
    3. Pengeluaran mucus
                   
Diagnosis banding
Pada prolaps mukosa, lipatan mukosa menunjukan gambaran radier. Kadang ada prolaps polip yang bertangkai atau papil rectum yang hipertropik.
Tatalaksana
Pada orang dewasa muda dan anak diberikan diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Pada operasi thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps. Keuntungannya ialah oprasinya ringan, tetapi terdapat penyulit impaksi feses, infeksi, dan erosi pita kedalam rectum.
Rektopeksia yang dilakukan melalui laparotomi bukan merupakan oprasi yang ringan. Rectum dimobilisasi dari panggul dan dilepaskan dan dilepaskan dari jaringan sekitarnya, kemudian ditarik keatas dan difiksasi kedalam sacrum. Fiksasi rectum atau retropeksi ini dapat dilakukan oleh bahan Teflon jahitan mersilen. Kadang dilakukan sigmoidektomi dan kolon desendens dianastomosis dengan sisa rectum.  
                         
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Prolaps rectum yaitu berupa keluarnya seluruh dinding rectum. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen. Prolap rectum kecil biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposis. Diagnosis dari prolaps recti yaitu  penonjolan rectum dari anus, Inkontinensia tinja parsial atau total, dan pengeluaran mucus. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Adapun tekhnik operasinya yaitu thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps.
Saran bagi penderita yaitu diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul.







DAFTAR PUSTAKA
1.      Grace P, Borley N. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga.Jakarta : Erlangga.2006.115
2.      Samsuhidajat R, De Jong W. Buku ajar Ilmu bedah Edisi 2. Jakarta : EGC.2004.678-679
3.      Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta : EGC.2000.424
4.      Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah bagian 2. Jakarta: EGC 1994.64
5.      Doherty, M Gerard. Current Surgical Diagnosis and Treatment, Ed 12, USA: The McGraw-Hill Companies Inc. 2006.705-707
7.      http://en.wikipedia.org/wiki/Prolapse



















 DAFTAR ISI            
                                                                                                .
KATA PENGANTAR………………………………………………….........          i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………          2
BAB    I. PENDAHULUAN………………………………………................           3       
BAB    II. ISI
I.          ANATOMI……………………………………………………         4
II.                PROLAPS PADA ANAK……………………………………          9
III.             PROLAPS PADA DEWASA ………………………………..         11    
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………….         13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..      14














BAB I
PENDAHULUAN

           
Prodensia atau prolaps rectum yang berupa keluarnya seluruh dinding rectum harus dibedakan dari prolaps mukosa yang dapat terjadi pada hemoroid interna. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen.penunjang rectum terdiri dari mesentrium dorsal, lipatan peritoneum, berbagai fasia, dan m.levator rectum.  Bagian puborectum dari m.levator melibatkan rectum sehingga rectum dan anus membentuk sudut tajam.  Prolaps rectum pada anak ditemukan sebagai kelainan bawaan atau karena kebiasaan menahan fesesnya. Pada orang dewasa, prolaps kadang dibebabkan oleh cidera m.puborectalis atau paralisis otot panggul.









ISI
BAB II
I.                   Anatomi
Kanalis ani berasal dari invaginasi ektoderm, sedang rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal ini, maka terdapat perbedaan pula pada epitel pelapisnya, vaskularisasinya, inervasi dan drainase limfatiknya. (Marijata, 2000).
Lumen rektum dilapisi mukosa glanduler usus sedang kanalis ani dilapisi epitel squamosum stratifikatum lanjutan kulit luar. Jadi tidak ada mukosa anus. Daerah batas antara rektum dan kanalis ani disebut Anorectal Junction  ditandai oleh linea pectinea / linea dentata yang terdiri dari sel-sel transisional. Dari linea ini kearah rectum ada kolumna rectalis (Morgagni), dengan diantaranya terdapat sinus rectalis yang berakhir di kaudal sebagai valvula rectalis. Setinggi linea dentata ini ada crypta analis dan muara muara analis.
Panjang kanalis ani kira kira 4 cm yang dibedakan menjadi anatomical anal canal mulai anal verge sampai ke linea dentata dan Surgical anal canal untuk kepentingan klinis yang dimulai dari analverge sampai cincin anorektal yang merupakan batas paling bawah dari otot puborectalis yang dapat diraba pada waktu RT.



                      
Dasar panggul dibentuk oleh otot levator ani yang dibentuk oleh otot-otot pubococcygeus, ileococcygeus dan puborectalis. Otot-otot yang berfungsi mengatur mekanisme kontinensia adalah :
  1. Pubo-rektal merupakan bagian dari otot levator ani
  2. Sfingter ani eksternus (otot lurik)
  3. Sfingter ani internus (otot polos)
Batas antara spincter ani eksternus & internus disebut garis Hilton. Muskulus yang menyangga adalah m. Puborectalis. Otot yang memegang peranan terpenting dalam mengatur mekanisme kontinensia adalah otot-otot puborektal. Bila m. pubo-rektal tersebut terputus, dapat mengakibatkan terjadinya inkontinensia.

Muskulus puborektalis yang merupakan bagian m. levator ani membentuk jerat yang melingkari rektum sehingga berfungsi sebagai penyangga. Rektum juga ditopang oleh fascia pelvis parietalis (fascia Waldeyer), ligamentum laterale kanan dan kiri yang ditembus oleh a/v hemorrhoidales media dan mesorektum. Ligamentum dan mesorektum memfiksasi rectum ke permukaan anterior sacrum.
Batas-batas kanalis ani, ke kranial berbatasan dengan rectum disebut ring anorektal, ke kaudal dengan permukaan kulit disebut garis anorektal, ke lateral dengan fossa ischiorectalis, ke posterior dengan os koksigeus, ke anterior pada laki-laki dengan sentral perineum, bulbus urethra dan batas posterior diafragma urogenital (ligamentum triangulare) sedang pada wanita korpus perineal, diafragma urogenitalis dan bagian paling bawah dari dinding vagina posterior. Ring anorektal dibentuk oleh m.puborektalis yang merupakan bagian serabut m. levator ani mengelilingi bagian bawah anus bersama m. spincter ani ekternus.
                          
                          Description: Anorektum     
Vaskularisasi kanal anal berasal dari :
  • A. Hemorrhoidalis superior  , cabang dari a. mesenterika inferior
  • A. Hemorrhoidalis media   , cabang dari a. iliaca eksterna
  • A. Hemorrhoidalis inferior , cabang dari a. pudenda
Aliran vena diatas anorektal junction melalui sistem porta sedang canalis ani langsung ke vena cava inferior.
  • V. Hemorrhoid superior
Berasaldari plexus venosus hemorrhoidalis internus bermuara ke  v.mesenteruca inferior kemudian ke  v.porta Vena ini tidak mempunyai valvula, sering untuk penyebaran kanker
  • V. Hemorrhoid inferior
Mengalirkan darah dari v.pudenda interna menuju ke v.iliaca interna bermuara di vena cava. Sering menimbulkan gejala hemorrhoid.
Aliran limfe dari rektum mengikuti vasa hemoroidales superior ke lnn mesenterika inferior menuju lnn para aorta, sedang dari kanalis ani menuju ke lnn inguinalis kemudian lnn illiaca ekterna dan lnn illiaci kommunis, sehingga bila ada keganasan dan infeksi dapat menyebar sampai inguinal.
Inervasi kanalis ani diatur oleh saraf somatik sehingga sangat sensitif terhadap rasa sakit, sedang rektum oleh saraf viseral sehingga kurang sensitif terhadap rasa sakit. Rektum diinervasi oleh saraf simpatis dari pleksus mesenterika inferior dan n.presakralis (hipogastrica)  yang berasal dari L2,3,4 dan saraf parasimpatis dari S2,3,4.
Pemeriksaan Anorektum ( Proktologi )
  • Inspeksi & Palpasi
Dideteksi : Fissura ani, abses perianal, fistel perianal, hemorrhoid, prolaps
  • Colok dubur / RT
  • Anuskopi  untuk melihat kanalis ani dan bagian bawah rektum sejauh  10 cm
  • Proktoskopi : 15 cm
  • Proktosigmoideskopi : melihat rektum, colon sigmoid
Posisi pasien pada pemeriksaan Anorektum :
  1. Knee chest (menungging)
  2. Lithotomi
  3. Sims (miring kekiri dengan paha ditekuk)
                                                  

 II.     
 Prolaps pada anak
Pencetus timbulnya prolaps pada anak yaitu mengedan pada anak dengan obstipasi kronik atau pada anak dengan diare kronik karena sindroma malabsorbsi atau kondisi malnutrisi. Anak sehat sering aktif main sering segan defekasi.  Ia selau menahan defekasi sehingga kalau terpaksa defekasi feses dikeluarkan secara mendadak dengan tenaga tinggi mengakibatkan mukosa rectum terdorong keluar lubang anus.
Kadang prolaps disebabkan kelainan organic seperti pada prolaps rectum yang terjadi akibat paresis spingter anus pada meningokel atau agenesis sacrum, otot dasar panggul hipotonik akibat kurang gizi atau pascaanoplastik atau rectoplastik pada malformasi anorektal akibat mukosa rectum yang berlebihan. Pada vesika ektopik, sering ditemukan prolaps dari rectum karena simfisis pubis terpisah jauh, sedangkan  origo otot puborectalis terdapat disitu.
                     
                       


Gejala klinis
Pada umumnya dengan prolaps recti memempunyai susunan anatomi yang normal. Mukosa rectum keluar saat defekasi, dan masuk kembali saat tanpa menimbulkan rasa nyeri. Kadang diperlukan dorongan tangan. Pada sebagian pasien, mukosa yang prolaps tersebut tidak dapat kembali walau didorong. Hal ini akan menimbulkan udem, nyeri, dan acapkali berdarah
Diagnosis banding
Pada rectum prolaps atau ujung distal dari invaginasi dapat menonjol keluar anus. Keadaan ini dapat dibedakan dari  prolaps rectum dengan memasukan jari diantara dinding anus yang keluar dengan cincin anus tempat adanya rongga yang dalam.
Terapi
Diberikan pelunak feses beberapa minggu agar tekanan mengedan berkurang. Cara defekasi sebaiknya duduk, tidak jongkok untuk mengurangi tekanan pada waktu mengedan. Perbaikan keaadan umum dan nutrisi merupakan dasar pengobatan. Bila perlu tindakan bedah * yang jarang diperlukan),  dapat dilakukan cara thiersch yaitu jahitan melingkar subkutan pada sfingter eksterna dua rangkap.





III.     Prolaps rectum pada dewasa
Pada permulaan, prolaps masih keci, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposisi. Prolaps tambah berat karena udem, sehingga makin besar dan sama sekali tidak dapat dimasukan kembal karena rangsangan dan bendungan mucus serta keluarnya darah. Sfinfter anus menjadi longgar dan hipotonik sehingga terjadi inkontinensia feses.
Pada pemeriksaan stadium permulaan terdapat penonjolan dengan lipatan mukosa konsentrik. Pemeriksaan harus dilengkapi dengan endoskopi dan atau foto rontgen kolon untuk menyingkirkan penyakit kolon kausal dan pemeriksaan untuk kausa neurologic.
Diagnosis  prolaps rectum
    1. Penonjolan rectum dari anus
    2. Inkontinensia tinja parsial atau total
    3. Pengeluaran mucus
                   
Diagnosis banding
Pada prolaps mukosa, lipatan mukosa menunjukan gambaran radier. Kadang ada prolaps polip yang bertangkai atau papil rectum yang hipertropik.
Tatalaksana
Pada orang dewasa muda dan anak diberikan diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Pada operasi thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps. Keuntungannya ialah oprasinya ringan, tetapi terdapat penyulit impaksi feses, infeksi, dan erosi pita kedalam rectum.
Rektopeksia yang dilakukan melalui laparotomi bukan merupakan oprasi yang ringan. Rectum dimobilisasi dari panggul dan dilepaskan dan dilepaskan dari jaringan sekitarnya, kemudian ditarik keatas dan difiksasi kedalam sacrum. Fiksasi rectum atau retropeksi ini dapat dilakukan oleh bahan Teflon jahitan mersilen. Kadang dilakukan sigmoidektomi dan kolon desendens dianastomosis dengan sisa rectum.  
                         
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Prolaps rectum yaitu berupa keluarnya seluruh dinding rectum. Kausa prolaps rectum pada orang dewasa pada umunya akibat kurangnya daya tahan jaringan penunjang rectum yang biasanya disertai dengan peninggian tekanan intraabdomen. Prolap rectum kecil biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila tambah besar makin sukar untuk melakukan reposis. Diagnosis dari prolaps recti yaitu  penonjolan rectum dari anus, Inkontinensia tinja parsial atau total, dan pengeluaran mucus. Penanganan bedah untuk orang dewasa dan orang tua dapat dilakukan melalui laparotomi atau melalui perineum. Adapun tekhnik operasinya yaitu thiers dipasang pita dari bahan sintetik atau benda lain subkutan disekitar anus dan diikat sehingga menyebabkan konstriksi anus yang mencegah prolaps.
Saran bagi penderita yaitu diit berserat untuk memperlancar defekasi. Kadang dianjurkan untuk latihan otot dasar dinding panggul.







DAFTAR PUSTAKA
1.      Grace P, Borley N. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga.Jakarta : Erlangga.2006.115
2.      Samsuhidajat R, De Jong W. Buku ajar Ilmu bedah Edisi 2. Jakarta : EGC.2004.678-679
3.      Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta : EGC.2000.424
4.      Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah bagian 2. Jakarta: EGC 1994.64
5.      Doherty, M Gerard. Current Surgical Diagnosis and Treatment, Ed 12, USA: The McGraw-Hill Companies Inc. 2006.705-707
7.      http://en.wikipedia.org/wiki/Prolapse