"A Man can't make a mistake can't make anything"
Showing posts with label OSTEOPOROSIS. Show all posts
Showing posts with label OSTEOPOROSIS. Show all posts

Thursday, 4 October 2012

DEFINISI,DIAGNOSA DAN PENANGANAN OSTEOPOROSIS


BAB I
PENDAHULUAN


Osteoporosis merupakan suatu keadaan penurunan massa tulang yang menyebabkan fraktur traumatik atau atraumatik. Osteoporosis merupakan masalah besar pada perawatan kesehatan karena beratnya konsekuensi fraktur pada pasien dan sistem perawatan kesehatan.1
Masalah osteoporosis di Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita barat yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari. Kurangnya asupan kalsium. Perubahan gaya hidup seperti merokok, alkohol dan berkurangnya latihan fisik. Penggunaan obat-obatan steroid jangka panjang. Serta risiko osteoporosis tanpa gejala klinis yang menyertainya.
Pada tulang normal selalu terjadi proses pembentukan dan penipisan tulang secara terus menerus. Hal ini bertujuan untuk menjaga massa tulang agar tidak terlalu berat sehingga tidak menganggu proses pergerakan. Seperti saya sebutkan diatas, pada osteoporosis, proses pembentukan tidak terjadi sementara proses penipisan berlangsung terus menerus.
Tulang yang tipis akan sangat lemah dan mudah patah dengan benturan yang ringan sekalipun. Pada tulang normal, benturan ini tidak akan menyebabkan apa apa, sementara pada penderita osteoporosis menyebabkan patah tulang yang parah. Hampir semua tulang mengalami hal ini termasuk tulang rusuk, panggul dan pergelangan tangan.











BAB II
OSTEOPOROSIS

II.1. DEFINISI
Berasal dari bahasa Latin, osteoporosis secara harfiah berarti tulang keropos, yang melibatkan baik mineral (anorganik) dan non-mineral (organik matriks) komponen tulang.
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang progresif dimana jaringan mineral tulang dalam keadaan normal, tetapi jumlah tulang berkurang dan integritas struktural tulang trabecular terganggu, menjadi lebih rapuh. Cortical tulang menjadi lebih keropos dan tipis. Sementara tulang yang lebih kecil belum tentu lebih rentan terhadap kerusakan, tulang yang bersifat lebih tipis dan rapuh lebih rentan terhadap fracture. Dimana keadaan tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur (thief in the night).