Wednesday, 29 August 2012
Tuesday, 28 August 2012
Dr Herry Setya Yudha Utama SpB. MHKes. FInaCS. ICS: PRINSIP PRINSIP PENGETAHUAN DASAR BEDAH SARAF
Dr Herry Setya Yudha Utama SpB. MHKes. FInaCS. ICS: PRINSIP PRINSIP PENGETAHUAN DASAR BEDAH SARAF: BAB I PENDAHULUAN Saat ini tejadi pengembangan teknik pemantauan neurophysiologic intraoperative....
LITERATUR REVIEW : Penatalaksanaan Trauma Spinal dan Cedera Cervikal
Penatalaksanaan Trauma Spinal
dan Cedera Cervikal
II.
1. ANATOMI
Tulang belakang manusia adalah pilar atau tiang yang berfungsi
sebagai penyangga tubuh dan melindungi sumsum tulang belakang. Pilar itu
terdiri atas 33 ruas tulang belakang yang tersusun secara segmental yang
terdiri atas 7 ruas tulang servikal (vertebra servikalis), 12 ruas tulang torakal
(vertebra torakalis), 5 ruas tulang lumbal (vertebra lumbalis), 5 ruas tulang
sakral yang menyatu (vertebra sakral), dan 4 ruas tulang ekor (vertebra koksigea).
Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain oleh karena
adanya dua sendi di posterolateral dan diskus intervertebralis di anterior.
Pada pandangan dari samping pilar tulang belakang membentuk lengkungan atau
lordosis di daerah servikal, torakal dan lumbal. Keseluruhan vertebra maupun
masing-masing tulang vertebra berikut diskus intervertebralisnya bukanlah merupakan
satu struktur yang mampu melenting, melainkan satu kesatuan yang kokoh dengan diskus
yang memungkinkan gerakan antar korpus ruas tulang belakang. Lingkup gerak
sendi pada vertebra servikal adalah yang terbesar. Vertebra torakal berlingkup
gerak sedikit karena adanya tulang rusuk yang membentuk toraks, sedangkan
vertebra lumbal mempunyai ruang lingkup gerak yang lebih besar dari torakal
tetapi makin ke bawah lingkup geraknya makin kecil.
4, 5
Secara
umum struktur tulang belakang tersusun atas tiga kolom, yaitu :
1. Kolom
anterior, terdiri atas ligamentum longitudinal anterior, dua per tiga corpus
vertebra, dan diskus intervertebralis bagian anterior
2. Middle column,
terdiri atas corpus vertebrae bagian posterior, diskus intervertebralis bagian
posterior, ligamentum longitudinal posterior, ligamentum lateral
3. Kolom
posterior, terdiri atas pedikel, lamina dan prosesus spinosus, ligamentum
flavum, ligamentum interspinosus, ligamentum supraspinosus, serta kapsul sendi.
Monday, 27 August 2012
DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN FISTULA ANI
FISTULA ANI
I. DEFINISI
Fistula ani disebut juga fistel perianal
atau fistel para-anal1. Fistula anorektal
(Fistula ani) adalah komunikasi abnormal antara anus dan kulit perianal. Kelenjar
pada kanalis ani terletak pada linea dentate menyediakan jalur organisme yang
menginfeksi untuk dapat mencapai ruang intramuscular2.
II. ETIOLOGI
Fistula
dapat muncul secara spontan atau sekunder karena abses perianal (atau
perirektal). Faktanya, setelah drainase dari abses periani, hampir 50 %
terdapat kemungkinan untuk berkembang menjadi fistula yang kronik. Fistula
lainnya dapat terjadi sekunder karena trauma, penyakit Crohn. fisura ani,
karsinoma, terapi radiasi, aktinomikosis, tuberculosis, dan infeksi klamidia2.
Hipotesa
kriptoglandular menyatakan bahwa infeksi bermula pada kelenjar ani dan
berkembang menuju dinding otot dari sfingter ani yang menyebabkan abses
anorektal. Setelah pembedahan atau drainase spontan pada kulit periani, biasanya
jaringan granulasi dari traktus tertinggal, menyebabkan gejala yang berulang2.
Dapat disebabkan oleh
perforasi atau penyaliran abses anorektum. Kadang fistel disebabkan oleh
colitis yang disertai proktitis, seperti TBC, amubiasis, atau morbus Crohn. Infeksi
dari kelenjar intersphincter di anal dengan organisme yang ditemukan di traktus
gastrointestinal- baik aerob (Cth : E.coli) dan anaerob (Cth : Bacteroides
spp.) – adalah penyebab gangguan yang umum terjadi ini.1
III. ABSES ANOREKTUM
Biasanya
abses perianal terjadi akibat glandula analis terinfeksi yang mengerosi ke
dalam jaringan yang mendasari. Biakan dari fistula abses rektum anal
memperlihatkan infeksi campuran dengan E.coli dominan. Penggunaan kronis
purgatif dan enteritis regionalis merupakan faktor penyebab yang lazim. Infeksi yang tak lazim seperti
aktinomikosis, tuberkulosis, dan penyakit jamur lain, penyakit peradangan
pelvis, prostatitis dan kanker bisa jarang menyertai3.
Subscribe to:
Posts (Atom)