"A Man can't make a mistake can't make anything"
Showing posts with label PENATALAKSANAAN. Show all posts
Showing posts with label PENATALAKSANAAN. Show all posts

Wednesday, 25 February 2015

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN ULKUS DIABETIKUM


                                                           
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN
ULKUS DIABETIKUM

EPIDEMIOLOGI

Prevalensi ulkus pada penduduk berkisar antara 2 - 10 %, sebenarnya hanya sebagian kecil persoalan kaki kemudian berlanjut sampai memerlukan amputasi tungkai bawah. Sebagian besar dapat diselamakan dengan pengelolaan yang cermat. Sedangkan di Indonesia, prevalensi ulkus diabetikum pada populasi jarang dilaporkan. Di Jakarta, pada survey populasi pada tahun 1983 didapatkan angka prevalensi tukak/bekas tukak sebesar 2,4 %. Di Poliklinik Endokrin RS Dr Kariadi Semarang dari data yang dikumpulkan mulai bulan Januari 2001 sampai Juni 2002 didapatkan 4 % pasien DM yang dirujuk ke poliklinik endokrin RS ini, mengalami komplikasi makroangiopati berupa ulkus diabetikum.
Diabetes mellitus adalah sebagai penyebab utama amputasi ekstremitas bawah non traumatik di Amerika Serikat. Amputasi kaki karena diabetes merupakan 50 % total amputasi di Amerika Serikat. Sedangkan data di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta angka amputasi masih sangat tinggi, yaitu sebesar 23 %.Nasib pasien yang sudah mengalami amputasi pun tidaklah menggembirakan. Data dari seluruh rumah sakit di Negara bagian California menunjukkan 13 % di antara mereka yang sudah diamputasi akan memerlukan tindakan amputasi lagi dalam jangka 1 tahun. Didapatkan pula bahwa 30- 50 % pasien yang telah diamputasi akan memerlukan tindakan amputasi kaki sebelahnya dalam jangka 1-3 tahun. Sedangkan dari data RSUPN Cipto Mangunkusumo nasib penderita ulkus diabetikum yang diamputasi juga tidak menggembirakan. Dalam 1 tahun pasca amputasi 14,8 % meninggal dan meningkat 37 % pada pengamatan 3 tahun.





Wednesday, 8 October 2014

ALGORITMA PENATALAKSANAAN CIDERA KEPALA/ HEAD INJURY

BAB I
PENDAHULUAN
           saya herry setya yudha utama mencoba menyajikan tulisan ini untuk masyarakat. Di negara berkembang seperti Indonesia, seiring dengan kemajuan teknologi dan pembangunan, frekuensinya cenderung makin meningkat. Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian akibat trauma, mengingat bahwa kepala merupakan bagian yang tersering dan rentan terlibat dalam suatu kecelakaan. Kasus cedera kepala terutama melibatkan kelompok usia produktif, yaitu antara 15-44 tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki dibandingkan perempuan. Penyebab tersering adalah kecelakaan lalu lintas dan disusul dengan kasus jatuh terutama pada kelompok usia anak-anak.
Trauma capitis adalah cedera pada kepala yang dapat melibatkan seluruh struktur lapisan, mulai dari lapisan kulit kepala atau tingkat yang paling  “ringan”, tulang tengkorak, duramater, vaskuler otak, sampai jaringan otaknya sendiri; baik berupa luka yang tertutup, maupun trauma tembus.
Untuk rujukan penderita cedera kepala, perlu dicantumkan informasi penting seperti: umur penderita, waktu, mekanisme cedera, status respiratorik dan kardiovaskuler, pemeriksaan minineurologis (GCS) terutama nilai respon motorik dan reaksi cahaya pupil, adanya cedera penyerta, dan hasil CT Scan.
            Pada penderita harus diperhatikan pernafasan, peredaran darah umum dan kesadaran, sehingga tindakan resusitasi, anmnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak.  Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit.


Monday, 21 October 2013

TRAUMA ABDOMEN DAN PENATALAKSANAAN OLEH HERRY SETYA YUDHA UTAMA


PENDAHULUAN

Dibawakan pada Seminar Trauma 26 Oktober 2013 di Rumah Sakit Mitra Plumbon Cirebon

           I.I  Latar Belakang
Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera. Trauma pada abdomen dapat di bagi menjadi dua jenis. Trauma penetrasi dan Trauma non penetrasi.
Pukulan langsung, misalnya kena pinggir bawah stir mobil atau pintu yang masuk (intruded) pada tabrakan kendaraan bermotor, dapat mengakibatkan cedera tekanan atau tindasan pada isi abdomen. Kekuatan ini merusak bentuk organ padat atau berongga dan dapat mengakibatkan ruptur, khususnya pada organ yang menggembung (misalnya uterus yang hamil), dengan perdarahan sekunder dan peritonitis. Shearing injuries pada organ isi abdomen merupakan bentuk trauma yang dapat terjadi bila suatu alat penahan (seperti sabuk pengaman jenis lap belt atau komponen sabuk bahu)dipakai dengan cara yang salah.
Penderita yang cedera dalam tabrakan kendaraan bermotor juga dapat menderita cedera deceleration karena gerakan yang berbeda dari bagian badan yang bergerak dan yang tidak bergerak, pada hati dan limpa yang sering terjadi (organ bergerak) ditempat jaringan pendukung (struktur tetap) pada tabrakan tersebut. Pada penderita yang dilakukan laparatomi oleh karena trauma tumpul (blun injury), organ yang paling sering cedera, adalah limpa (40 – 55%), hati (35 – 45%)dan hematoma retroperitoneum (15%).

I.2  Batasan Masalah
Referat ini membahas tentang anatomi abdomen, definisi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, diagnosis, dan penatalaksanaan trauma abdomen.

I.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan referat ini adalah:
1.      Memahami  mengenai anatomi abdomen.
2.      Memahami mengenai trauma abdomen.
3.      Meningkatkan kemampuan menulis ilmiah di dalam bidang kedokteran khususnya bagian ilmu bedah.
4.      Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas YARSI dan RSUD Arjawingaun.

I.4  Metode Penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu kepada beberapa literatur.



Thursday, 6 December 2012

Penatalaksanaan luka bakar / combustio / burn terkini (mutahir)


PENDAHULUAN

            Luka bakar atau combustio merupakan cedera yang cukup sering dihadapi oleh para dokter. Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi.1
            Hal ini disebabkan karena pada luka bakar terdapat keadaan sebagai berikut :
1.      terdapat kuman dengan patogenitas tinggi.
2.      terdapat banyak jaringan mati.
3.      mengeluarkan banyak air, serum dan darah.
4.      terbuka untuk waktu yang lama (mudah terinfeksi dan terkena trauma).
5.      memerlukan jaringan untuk menutup.
Luka bakar yang lebih luas dan dalam memerlukan perawatan lebih intensif dibandingkan luka bakar yang hanya sedikit dan superfisial.1
Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), perawat intensif, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi.2

Saturday, 1 December 2012

HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penanggulangannya


 HIV (Human Immunodeficiency Virus) serta AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) saya suguhkan saat 1 desember hari AIDS se dunia mudah mudahan bermanfaat buat para pembaca.
 Definisi
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus)  yang termasuk famili retroviridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

 SISTEM IMUNITAS TUBUH
            Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respons imun sangat bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan sumber antigen bersangkutan. Proses pengenalan antigen dilakukan oleh unsur utama sistem imun yaitu limfosit yang kemudian diikuti oleh fase efektor yang melibatkan berbagai jenis sel. Pengenalan antigen sangat penting dalam fungsi sitem imun normal, karena limfosit harus mengenal semua antigen pada patogen potensial dan pada saat yang sama ia harus mengabaikan molekul-molekul jaringan tubuh sendiri. Untuk mengatasi hal itu, limfosit pada seorang individu melakukan diversifikasi selama perkembangannya demikian rupa sehingga populasi limfosit secara keseluruhan mampu mengenal molekul asing dan membedakannya dari molekul jaringan atau sel tubuh sendiri.
            Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya didalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limpa, thymus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan oragan-oragan lain. Sel-sel yang terdapat dalam jaringan ini berasal dari sel induk (stem cell) dalam sumsum tulang yang berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, kemudian beredar dalam tubuh melalui darah, getah bening serta jaringan limfoid dan dapat menunjukkan respons terhadap suatu rangsangan sesuai dengan sifat dan fungsinya masing-masing. Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila kedalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non-self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada beberapa keadaan patologik, sistem imun tidak dapat membedakan self dari nonself sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat anti itu disebut autoantibodi.

Wednesday, 24 October 2012

DEKUBITUS DAN PENATALAKSANAANNYA


DEKUBITUS

Kita kehilangan sekitar satu gram sel kulit setiap harinya karena gesekan kulit pada baju dan aktivitas higiene yang dilakukan setiap hari seperti mandi. Dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini merupakan masalah  yang khusus pada lansia. Khsusnya pada klien dengan imobilitas. Dekubitus berasal dari bahasa latin decumbree yang berarti merebahkan diri yang didefenisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam. Dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan. Jaringan memperoleh oksigen dan nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang mengganggu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi jaringan.  
Iskemia jaringan adalah tidak adanya darah secara lokal atau penurunan aliran darah akibat obstruksi mekanika). Penurunan aliran darah menyebabkan daerah tubuh menjadi pucat. Pucat terlihat ketika adanya warna kemerahan pada pasien berkulit terang. Pucat tidak terjadi pada pasien yang berkulit pigmen gelap.  Kerusakan jaringan terjadi ketika tekanan mengenai kapiler yang cukup besar dan menutup kapiler tersebut.

Tuesday, 28 August 2012

LITERATUR REVIEW : Penatalaksanaan Trauma Spinal dan Cedera Cervikal


Penatalaksanaan Trauma Spinal dan Cedera Cervikal

II. 1. ANATOMI
Tulang belakang manusia adalah pilar atau tiang yang berfungsi sebagai penyangga tubuh dan melindungi sumsum tulang belakang. Pilar itu terdiri atas 33 ruas tulang belakang yang tersusun secara segmental yang terdiri atas 7 ruas tulang servikal (vertebra servikalis), 12 ruas tulang torakal (vertebra torakalis), 5 ruas tulang lumbal (vertebra lumbalis), 5 ruas tulang sakral yang menyatu (vertebra sakral), dan 4 ruas tulang ekor (vertebra koksigea). Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain oleh karena adanya dua sendi di posterolateral dan diskus intervertebralis di anterior. Pada pandangan dari samping pilar tulang belakang membentuk lengkungan atau lordosis di daerah servikal, torakal dan lumbal. Keseluruhan vertebra maupun masing-masing tulang vertebra berikut diskus intervertebralisnya bukanlah merupakan satu struktur yang mampu melenting, melainkan satu kesatuan yang kokoh dengan diskus yang memungkinkan gerakan antar korpus ruas tulang belakang. Lingkup gerak sendi pada vertebra servikal adalah yang terbesar. Vertebra torakal berlingkup gerak sedikit karena adanya tulang rusuk yang membentuk toraks, sedangkan vertebra lumbal mempunyai ruang lingkup gerak yang lebih besar dari torakal tetapi makin ke bawah lingkup geraknya makin kecil.
4, 5
Secara umum struktur tulang belakang tersusun atas tiga kolom, yaitu :
1.      Kolom anterior, terdiri atas ligamentum longitudinal anterior, dua per tiga corpus vertebra, dan diskus intervertebralis bagian anterior
2.      Middle column, terdiri atas corpus vertebrae bagian posterior, diskus intervertebralis bagian posterior, ligamentum longitudinal posterior, ligamentum lateral
3.      Kolom posterior, terdiri atas pedikel, lamina dan prosesus spinosus, ligamentum flavum, ligamentum interspinosus, ligamentum supraspinosus, serta kapsul sendi.

Wednesday, 1 August 2012

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS EKSTRA PULMONAL / DIAGNOSIS AND TREATMENT OF EXTRA PULMONARY TUBERCULOSIS


Tulisan ini berjudul “EKSTRAPULMONAL TUBERKULOSA” ini , saya mengambil referensi dari literatur dan jaringan internet.,dalam proses penyelesaian karya tulis ini, juga untuk dukungannya baik dalam bentuk moril maupun dalam mencari referensi


1.SPONDILITIS TUBERKULOSA
I. Pendahuluan
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal yang dikenal pula dengan nama Pott’s disease of the spine atau tuberculous vertebral osteomyelitis merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Terhitung kurang lebih 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh Percival Pott pada tahun1779 yang menemukan adanya hubungan antara kelemahan alat gerak bawah dengan kurvatura tulang belakang, tetapi hal tersebut tidak dihubungkan dengan basil tuberkulosa hingga ditemukannya basil tersebut oleh Koch tahun 1882,sehingga etiologi untuk kejadian tersebut menjadi jelas.
Di waktu yang lampau, spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang dipergunakan untuk penyakit pada masa anak-anak, yang terutama berusia 3 – 5tahun. Saat ini dengan adanya perbaikan pelayanan kesehatan, maka insidensi usiaini mengalami perubahan sehingga golongan umur dewasa menjadi lebih sering terkena dibandingkan anak-anak.
Terapi konservatif yang diberikan pada pasien tuberkulosa tulang belakang sebenarnya memberikan hasil yang baik, namun pada kasus – kasus tertentu diperlukan tindakan operatif serta tindakan rehabilitasi yang harus dilakukandengan baik sebelum ataupun setelah penderita menjalani tindakan operatif.
II. Epidemiologi
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi di seluruh dunia dan biasanya berhubungan dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia serta kondisi sosial di negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan sedang berkembang, terutama di Asia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih menjadi merupakan masalah utama. Pada negara-negara yang sudah berkembang atau maju insidensi ini mengalami penurunan secara dramatis dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Perlu dicermati bahwa di Amerika dan Inggris insidensi penyakit ini mengalami peningkatan pada populasi imigran,tunawisma lanjut usia dan pada orang dengan tahap lanjut infeksi HIV (Medical Research Council TB and Chest Diseases Unit 1980). Selain itu dari penelitian juga diketahui bahwa peminum alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang adalah kelompok beresiko besar terkena penyakit ini.

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN FRAKTUR TULANG WAJAH ( LE FORT FRACTURE)


FRAKTUR LE FORT
I.                   PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu tulang frontal, temporal, orbitozigomatikus, nasal, maksila dan mandibula. Fraktur maksilofasial lebih sering terjadi sebagai akibat dari faktor yang datngnya dari luar seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja , kecelakaan akibat olah raga dan juga sebagai akibat dari tindakan kekerasan. Tujuan utama perawatan fraktur maksilofasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat, pengembalian fungsi okuler, fungsi pengunyah, fungsi hidung, perbaikan fungsi bicara, mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakitakibat adanya mobilitas segmen tulang.
Wajah dapat dibagi menjadi tiga daerah (sub-unit), setiap daerah memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Sub-unit paling atas terdiri dari tulang frontal yang secara prinsip berfungsi berfungsi sebagai 

Saturday, 14 July 2012

HIP JOINT DISLOCATION DIAGNOSIS AND TREATMENT / DISLOKASI SENDI PANGGUL DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN


HIP joint dislocation DIAGNOSIS AND TREATMENT


Pelvis is a bone to protect the tools in the pelvic space. Hip fracture is rare in children compared with adults. Most of the cause was traffic accident trauma in children aged 1-8 years due to a lack of awareness of traffic. Hip fractures in children is generally a part of a multiple trauma to other organs such as the head, thorax and limbs.




BIRTH-dislocation of the hip

Or congenital hip dislocation Congenital Dislocation of the Hip (CDH) is the phase spectrum of the instability of the hip joint in infants. Under normal circumstances, the newborn pelvis in a stable and slightly flexed.
Pelvic instability range 5-20% of 1,000 live births, and most will be stable after 3 weeks and only 1-2% that remained unstable. Congenital hip dislocation seven times more in women than in men, the left hip joint is more often affected and only 15% are bilateral. The disorder is more common in Americans and Japanese and is rarely found in people of Indonesia.


Tuesday, 3 July 2012

KARSINOMA PENIS , DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN


KARSINOMA PENIS DAN PENATALAKSANAANNYA




PENDAHULUAN

Penis (zakar) alat kelamin luar laki-lakiyang diselubungi oleh kulit bagian kepala& prepusium.Penyebab rangsangan kronis akibatakumulasi smegma dari palit kulit.Ca penis keganasan pada penis.


                                                            Anatomi penis

Panjang penis saat lahir 4 cm, Akil baligh 7 cm, Usia 20 tahun 13 cm

Terdiri 3 bagian :
2 corpus cavernosum, uretra, dan padaujung penis membentuk preputium.Corpus penis terdiri dari 2 corpus cavernosuslateral, 1 corpus spongiosum medial ygmengandung uretra.

Tiga corpus diikat oleh simpai jaringanikat fibrosa Tunica Albuginea &diliputi oleh kulit yang bagian distalterlipat PreputiumPeredaran darah : dari arteri tunikainterna yaitu cabang arteri hipogastrik& kembali melalui vena yg bersatu dgfleksus prostat.Getah bening dari penis & scrotumdialirkan ke kelenjar getah bening lipatpaha bagian permukaan & kelenjarsubinguinal.







                                                          Carcinoma penis